Manusia Kristen

MANUSIA KRISTEN
PENGAJAR: PDT. HARIANTO GP,
DOSEN STT BETHANY SURABAYA
Web stt Bethany: www.sttbethany.ac.id

I. MANUSIA MERUPAKAN GAMBAR DAN RUPA ALLAH
Dasar Alkitab: Kej 1:26-31; Kej 2:7

I. Arti Gambar dan Rupa Allah

Kej 1: 26a “Berfirmanlah Allah: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar [tselem: gambar, patung, model yang asli] dan rupa [demuth: salinan, tembusan yang asli] Kita …”

Dalam Kej 1:26-27, dijelaskan bahwa manusia diciptakan menurut “gambar” dan ”rupa” Allah. Kata “gambar” dan “rupa” tidak menunjukkan dua hal yang berbeda, tetapi mengandung kesamaan. Kesamaan ini menekankan akan kesamaan ilahi — bukan kesamaan secara fisik — antara Allah dengan ciptaan-Nya, yaitu: manusia. Tapi, karena manusia jatuh dalam dosa, maka kesamaan illahi ini rusak.
Elohim (Allah) menciptakan manusia dalam gambar-Nya seperti ayat 26. Dalam hal ini, Gambar dan rupa Allah dikaitkan dengan hakekat manusia. Dalam manusia seperti inilah Allah menghembuskan nafas hidup (Kej 2:7). Dengan demikian, manusia memiliki:
• Norma moral.
• Kesadaran akan kematian dan kemungkinan adanya kehidupan setelah mati.
• Kesadaran akan adanya kodrat yang lebih tinggi.
• Kemampuan untuk mengungkapkan kebenaran yang mutlak atau yang paling dasar.

2. Yesus sebagai Gambar dan Rupa Allah
Yesus sebagai gambar dan rupa Allah memperlihatkan ada dua kedudukan yang penting terhadap Yesus, yaitu: Dia adalah Allah 100 % dan Dia adalah manusia 100 %. Artinya, Dia mempunyai kesamaan gambar dan rupa Allah 100% (gambar asli, tidak rusak karena dosa). Gambar yang tidak rusak dari Yesus hidup sebagai manusia ke bumi dan mati di kayu salib dalam rangka menebus dosa manusia.

1. Allah 100 %
Allah 100% artinya memang Dia adalah Allah. Dia Pencipta, Empunya Bumi, Penentu Segala Sesuatu, dan Hakim dari Segala Sesuatu. Kesadaran Yesus adalah Allah muncul dalam berbagai ucapannya:

Yoh 14: 23 “… kami [Tuhan Yesus dan Bapa] akan datang kepada dia …”

Yoh 14: 21, 23-24 “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firmanKu dan BapaKu akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firmanKu; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari padaKu, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku” .

Yoh 8:23 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini”.

Kesatuan dengan Bapa itu mencakup atribut-atribut Bapa yang melekat kepada-Nya. Segala sesuatu yang menyangkut Allah ada kepada diri Yesus sendiri. Dalam Yoh 17:11 Tuhan Yesus menyebut Allah sebagai “Bapa yang Kudus”. Kalau Bapa itu kudus, maka Tuhan Yesus juga kudus. Maka, jika seseorang tidak menghormati siapa yang Bapa utus (Yesus), maka ia otomatis menolak Bapa (Yoh 5:20-21).

2. Manusia 100%
Yoh 19: 5 Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Maka kata Pilatus kepada mereka: “lihatlah manusia itu!”

Pilatus mengakui bahwa Yesus adalah manusia. Tidak saja Pilatus, tetapi semua orang yang hidup pada masa Yesus mengakuinya bahwa Yesus adalah manusia.
Dalam kemanusiaan-Nya, Tuhan Yesus mempunyai kepribadian sama dengan kita. Ia memiliki “mind” (otak, mental, cara berpikir), emosi, dan “will” (kehendak). Yesus juga bisa tidur, mempunyai tubuh yang kuat, mempunyai keluarga, bisa haus, lapar, dan lelah, bisa marah dan sedih, juga mengalami berbagai problem.
Perkembangan proses mental terjadi kepada Yesus. Misalnya, pada usia 12 tahun Ia pernah bertanya kepada alim ulama di bait Allah (Luk 2:46) dan membuat orang terheran-heran karena mampu menanyakan pertanyaan yang mengagumkan. Mereka kagum akan hikmat-Nya. Tuhan Yesus semakin besar dan bertambah hikmat-Nya dan makin dikasihi Allah dan manusia (Luk 2:52). Nampaknya Ia mengalami proses pertumbuhan wajar dari keluarga. Tuhan Yesus juga sekolah, karena orang Yahudi sangat menekankan pentingnya sekolah yang berhubungan dengan rumah ibadah. Bila ada satu desa tidak ada sekolah, maka pimpinan desa itu bisa dikucilkan dari masyarakat Yahudi.

3. Orang-orang Percaya sebagai Gambar dan Rupa Allah
Kol 3: 9-10 “Jangan lagi kamu saling berdusta, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakukannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.”

Gal 3: 26-28 “Sebab kamu semua anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptiskan dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus”.

Pengertian “manusia baru” menjadikan yang tadinya seseorang bukan orang percaya menjadi orang percaya. Ketika ia percaya kepada Yesus sebagai Juruselamatnya, maka ia menjadi manusia baru. Kata “baru” di sini mengarah pada telah diperbaiki gambar yang rusak — karena dosa Adam dan Hawa — menjadi tidak rusak sehingga ia bisa melakukan persekutuan dengan Allah: persekutuan yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Karena orang yang sudah percaya berarti ia sudah satu di dalam Kristus Yesus. Dengan demikian, ia telah sebagai gambar dan rupa Allah yang tidak rusak.

Sebagai gambar dan rupa Allah berarti, kita harus:
1. Hidupnya harus memenuhi kebenaran dari segala sudut: segala sesuatu lurus tanpa ada bengkok, segala sesuatu jujur tanpa ada plin-plan, segala sesuatu tulus tanpa ada kemunafikan
2. Menolak segala usaha si jahat untuk menjatuhkan kita ke dalam pencobaan atau perangkapnya.

II. MANUSIA MERUPAKAN MAKHLUK YANG BERBUDAYA
Dasar Alkitab: Bil 9:3; Mzm 150:3-5; Mat 28:19-20; Yoh 2:1-11; Ibr 9:1

Kata budaya mempunyai arti: (1) pikiran; akal budi, (2) adat istiadat, (3) sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang — beradab, maju. Dari kata budaya, munculah kata kebudayaan yang berarti hasil kegiatan atau penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat. Kebudayaan mempunyai beberapa persamaan kata. Dalam hal tradisi, antara lain: dongeng, adat istiadat, kebiasaan, sejarah, dan keagamaan. Dalam bidang pendidikan antara lain: gaya, seni, disiplin ilmu, dan termasuk juga skill dan grace.
Baik kata cultuur (bahasa Belanda), culture (bahasa Inggris), maupun tsaqafah (bahasa Arab) adalah berasal dari bahasa Latin: colere yang berarti “mengolah”, “mengerjakan”, “menyuburkan”, dan “mengembangkan”. Dari segi arti ini berkembanglah arti culture, yaitu “segala daya dan aktifitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam”.

1. Berbudaya antara Manusia dengan Makhluk Hidup Lainnya
Sebelum manusia ada, Allah telah berbudaya, berarti Allah mempunyai pikiran dan akal yang sudah maju. Allah memberi mandat kepada manusia untuk berbudaya. Dalam Kej 2:15, Allah memberi tugas kepada manusia untuk mengusahakan dan memelihara taman, termasuk hewan dan binatang. Karena itu manusia adalah makhluk yang mulia dibandingkan dengan ciptaan makhluk hidup lainnya.
Persamaan mendasar antara manusia dengan hewan atau binatang adalah sama-sama memiliki tugas untuk berkembang dan bertambah menjadi banyak. Tetapi, ada satu hal yang Allah tidak perintahkan kepada hewan atau binatang, yaitu “perintah untuk menaklukkan ataupun menguasai ciptaan Allah yang lain”. Mengapa demikian? Karena manusia adalah makhluk yang berbudaya atau makhluk yang mempunyai budi dan daya — akal dan pikiran.

2. Manfaat Berbudaya
Bil 9:3 “Pada hari keempatbelas bulan ini, pada waktu senja, haruslah kamu merayakannya pada waktu yang ditetapkan, menurut segala ketetapan dan peraturannya haruslah kamu merayakannya.”

Ibr 90:1 “Memang perjanjian yang pertama juga mempunyai peraturan-peraturan untuk ibadah dan untuk tempat kudus buatan manusia.”

Berdasarkan ayat tersebut, kita dapat mengetahui bahwa umat Israel sudah mempunyai adat kebudayaan yang harus dilaksanakan, misalnya dalam hal perayaan dan liturgi ibadah (liturgi adalah salah salah satu wujud nayata dari budaya mansia).

Hal ini memperlihatkan kepada kita bahwa kebudayaan sangat bermanfaat:
• Untuk memuji Allah, karena itu alat yang dipakai untuk memuji Allah adalah hasil dari budaya manusia. Dalam Mzm 125:3-5, pemazmur dengan jelas menghimbau kepada semua orang untuk senantiasa memuji Allah baik dengan tiupan sangkakala, gambus, kecapi, rebana, tari-tarian, seruling, maupun dengan cercap.
• Dengan akal budi kita bisa menjauhi kejahatan (Ayb 28:28).
• Dengan akal budi, kita bisa mengasihi Allah (Mat 22:37; Mrk 12:30; Luk 10:27).

3. Hasil budaya

Hasil kebudayaan manusia dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
• Kebudayaan material: Kebudayaan yang berwujud kebendaan, misalnya: gedung, rumah, alat-alat, pakaian, dan sebagainya.
• Kebudayaan imaterial (batin), misalnya: bahasa, ada (peraturan), ilmu pengetahuan, dan sebagainya. Dalam Mat 28:19-20, Yesus memberi amanat agung kepada murid-murid-Nya. Amanat tersebut adalah: menjadikan semua bangsa murid-Nya, membaptiskannya, dan mengajarnya sesuai perintah Allah. Untuk melaksanakan amanat agung dari Yesus — yaitu dalam penginjilan — kebudayaan sangat bermanfaat sekali. Dalam pelayanan-Nya, Yesus tidak mempermasalahkan kebudayaan yang ada dalam masyarakat. Contohnya: dalam pelayanan Yesus di Kana (Yoh 2:1-11). Berdasarkan adat yang ada, disediakan enam tempayan untuk membasuh kaki kedua mempelai (ayat 6). Kata adat dalam ayat tersebut berarti sudah mengunakan kebudayaan immaterial. Kalau kita baca dan perhatikan, Yesus tidak menentang adat tersebut. Tetapi, Yesus menggunakan adat tersebut sebagai alat untuk menyatakan diri-Nya.

III. MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK YANG BERETIKA
Dasar Alkitab: Mat 22: 15-22

Etika berasal dari kata “ethos”, yang berarti ilmu pengetahuan tentang moral. Etika adalah ilmu yang mempelajari tentang apa yang baik dan apa yang buruk; apa yang benar dan apa yang salah; tentang hak dan kewajiban moral (akhlak) yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, budi pekerti, atau susila.
Sebagai manusia yang hidup dan berpijak pada bumi Indonesia, maka kita harus mentaati peraturan yang ada di Indonesia. Kalau kita tidak mentaati peraturan yang ada di Indonesia, berarti kita juga tidak mentaati peraturan yang ada di Kelurahan kita, di kampung kita, di desa kita, bahkan kita juga tidak mentaati peraturan di rumah kita. Bila itu yang terjadi maka kita disebut amoral atau manusia yang tidak bermoral atau tidak beretika.
Dalam Mat 22: 21, Yesus memberikan contoh bagaimana seseorang menunjukkan ketaatannya kepada kaisar untuk membayar pajak. Seseorang yang membayar pajak, ia adalah menunjukan etika yang baik. Kalau seorang presiden menunjukkan etika atau moral yang tidak baik misalnya korupsi, apakah para menterinya yang melihatnya tidak akan korupsi? Kalau seorang kepala polisi mau menerima suap di kantornya, apakah polisi bawahannya yang melihatnya tidak akan menirunya? Memang bukan di kantor, tetapi di jalan raya. Kalau orangtua tidak bisa menunjukkan etika yang baik kepada anak-anaknya, bagaimana mungkin seorang anak akan mempunyai etika atau moral yang tidak sama dengan orang tuanya.

Etika Allah
Orang Kristen disamping harus tunduk terhadap aturan Pemerintah juga harus tunduk terhadap aturan Allah. Aturan-aturan Allah inilah disebut “Etika Alkitab”, di mana bersumber pada ajaran dalam Alkitab. Apa yang dimaksud etika Alkitab? Dalam 1 Kor 15:33, etika diterjemahkan sebagai “kebiasaan yang baik.” Tetapi, kata yang lebih banyak dipakai untuk mengartikan cara hidup ialah “anastrofe” (2 Ptr 3:11). Etika dalam Alkitab berbicara tentang cara hidup yang diatur dan disetujui oleh Firman Allah. Orang Kristen diatur oleh etika PL dan etika PB.
Etika Alkitabiah adalah induk dari etika umum yang ada dalam kehidupan umat manusia khususnya orang Kristen, baik di dalam maupun di luar lingkungan gereja. Sebagai contoh dalam PL ada sepuluh hukum Tuhan (Kel 20:1-17). Kalau kita melanggar hukum tersebut, berarti kita melanggar etika Allah, sekaligus kita melanggar etika yang Yesus ajarkan dalam Mat 22:37 dan kita pasti mendapatkan hukuman dari Allah. Kel 32:1-35 mengisahkan bagaimana bangsa Israel melanggar etika Allah yang menyebabkan Allah marah dan menghukum bangsa Israel. Sedangkan hukum keenam hingga hukum kesepuluh adalah menunjuk hubungan manusia dengan sesamanya. Kalau kita melanggar hukum tersebut, berarti kita telah melanggar etika umum dan sekaligus kita melanggar etika yang Yesus ajarkan dalam Mat 22:39. Dalam Luk 10:25-37, Yesus memberikan perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati. Kemurahan hati dari orang Samaria tersebut menunjukkan bahwa dia mempunyai etika yang baik dalam hidupnya. Karena itu, kita sebagai orang percaya diperintahkan oleh Yesus untuk melakukan hal yang demikian (Luk 10:37).

IV. MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK PSYKOSOMATIS:
TERDIRI DARI TUBUH, JIWA, DAN ROH

Kej 2:7 “Ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah [tubuh] dan menghembuskan nafas hidup [nephesh chayyar; roh atau jiwa yang hidup] ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.”

Debu dan tanah adalah tubuh. Mulanya Allah membentuk tubuh. Lalu, menghembuskan roh atau jiwa di dalam tubuh itu, sehingga manusia hidup. Jadi, manusia itu terdiri dari tubuh (soma, Yunani) dan jiwa atau roh (psuche; psikho, Yunani). Kedua istilah ini digabungnya menjadi “Psykosomatis” (tubuh dan roh) atau juga disebut “dikotomi”. Tapi, ada juga para ahli berpendapat bahwa manusia terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh disebut “trikotomi”.
Jiwa mempunyai arti:
• Jiwa merupakan akhir alam akal (rohani) dan menjadi permulaan makhluk-makhluk yang terdapat pada alam indrawi. Karena itu, ia bertalian dengan ke dua alam tersebut.
• Jiwa mempunyai bermacam-macam kekuatan, dan dengan kekuatannya ia menempati permulaan, pertengahan, dan akhir segala sesuatu.
• Dalam Ayub 33:4; 32:8, kata jiwa tidaklah mempunyai arti sebagaimana kita sering mengartikannya — suatu arti yang agak asing dalam PL – akan tetapi menunjukkan arti suatu keberadaan yang hidup dan merupakan suatu pejabaran tentang manusia sebagai suatu keseluruhan. Istilah Ibrani yang sama adalah “nephesh chayyar” (Makhluk yang hidup) juga dipakai untuk menunjuk binatang dalam Kej 1:21, 24, 30. Jadi ayat ini kendatipun menunjukkan adanya dua elemen diri manusia, tetaplah menekankan kesatuan organis dalam diri manusia. Dan pengertian seperti ini dapat kita temukan dalam seluruh Alkitab.

Kegunaan Tubuh dan Roh (Jiwa):
1. Tubuh dipakai untuk:
• menjelaskan keberadaan manusia.
• menyebut manusia secara keseluruhan: jasmani dan rohani (1 Kor 15:35).

2. Roh atau jiwa dipakai untuk:
• mengetahui (Mzm 77:7; Mrk 2:8).
• emosi (Kej 41:8).
• untuk menghayati dunia luar dan menanggapinya (1 Kor 16:18),
• untuk bersaksi (Rm 8:16).
• untuk beribadah (Rm 1:9), untuk bersekutu (Flp 2:1).
• berpikir, perasaan, berkehendak.
• dapat menerima dan menyatakan segala macam senang, sedih, girang, marah dan sebagainya.

V. MANUSIA DICIPTAKAN SEBAGAI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
Dasar Alkitab: Kej 1:27; Kej 2:18-20; Kej 2:21-24

1. Tugas-tugas Manusia
Ayat-ayat di atas memberi gambaran kehadiran manusia di bumi. Semula Allah menciptakan manusia itu adalah laki-laki (Kej 1:27). Allah memberi tugas kepada Adam sebagai berikut:
1. Adam harus mengusahakan dan memelihara taman (Kej 2:15).
2. Adam harus menamakan segala binatang hutan dan segala burung di udara (Kej 1:28).

Dalam proses melakukan pekerjaan bagi Adam, ia tidak menjumpai pendamping yang sepadan dengannya (Kej 2:18-20). TUHAN Allah mengetahui pikiran Adam dan meresponinya, Ia mengatakan bahwa tidak baik untuk manusia itu seorang diri, maka Allah menciptakan baginya seorang “pendamping yang sepadan dengannya”. Allah membuat tidur nyenyak pada Adam, lalu Allah mengambil sebuah dari tulang rusuknya, lalu menutupkan “daging” pada tempat itu. Dan Allah membangun tulang rusuk itu yang Ia ambil dari manusia menjadi perempuan, dan membawanya kepada manusia itu (Kej 2:21-24).

Tugas perempuan tersebut adalah:
1. Hawa harus mendamping (Companion) Adam dalam pelakukan tugasnya, bukan penolong (Helper). Kata “penolong” mempunyai arti asisten, orang yang membantu, pendeknya orang yang posisinya lebih rendah.
2. Allah memerintahkan “beranak cuculah dan bertambah banyak” (Kej 1:28).

Tapi, yang paling menarik di sini adalah Allah memberi perempuan tidak bersama ketika Allah menciptakan laki-laki, kenapa? Allah membangkitkan dulu kebutuhan dalam diri manusia. Dalam pekerjaannya manusia pasti membutuhkan sesuatu, dan di sinilah Allah mencukupinya.

2. Manusia dan Ciptaan Lainnya
Manusia diciptakan lebih tinggi dari makhluk lain (1 Tes 5:23). Yang membedakan manusia dari makhluk lain karena manusia mempunyai roh. Roh manusia dapat mengenal Allah, artinya:
1. Manusia milik Allah.
2. Hidup manusia ditentukan oleh Allah, karena itu kita tidak boleh membunuh orang lain dan diri sendiri, sebab membunuh adalah menghilangkan nyawa.
3. Tujuan hidup manusia harus disesuaikan dengan kehendak Allah.
4. Manusia harus taat kepada Allah. Banyak orang beranggapan taat itu adalah terbatas. Menurut orang Kristen jawabannya adalah “ya”, tetapi semua itu mengarahkan kita menuju kepada kehidupan surga atau hidup yang kekal.

Setiap menciptakan sesuatu Allah selalu berkomentar pada ciptaan-Nya dan dikatakan “sungguh baik”. Ketika Allah menciptakan manusia, ia berkomentar ”sungguh amat baik” (Kej 1:31). Dibandingkan dengan peristiwa waktu Allah menciptakan bagian-bagian hari dari bumi kita, misal Kej 1:10,12 Allah mengatakan “semua itu baik”. Ini menandakan penciptaan manusia berbeda dengan ciptaan lainnya. Manusia diciptakan lebih tinggi dari ciptaan yang lain. Buktinya lainnya:
• Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Sifat-sifat manusia: marah, benci, sayang, dan lainnya. Kemampuan: menciptakan barang baru, memberi nama terhadap barang yang dibuat.
• Alkitab ditulis melalui kata-kata yang diilhamkan oleh Allah melalui Roh Kudus. Kata-kata itu ditujukan kepada manusia, bukan ciptaan lainnya.
• Manusia bisa dimintai tanggung jawab atas perbuatannya, ciptaan lainnya tidak dapat dimintai tanggung jawabnya. Manusia yang bisa bertanggung jawab disebut makhluk susila (bermoral) dan kalau orang yang perbuatannya seperti binatang atau hewan, ia dikatakan tidak bersusila (asusila, amoral).
• Manusia bertanggung jawab terhadap lingkungan di mana ia tinggal. Contoh: di Bandung Utara, hutan-hutan dilindungi dan tidak boleh ditebang, karena menjadi sumber air minum, menyaring udara, menjaga kesuburan tanah. Juga udara di kota: udara kota dicemari tidak boleh oleh asap kendaraan bermotor dan asap pabrik, pemerintah mengatasi dengan menanam pohon-pohon di tepi jalan. Cerobong pabrik harus tinggi, pabrik harus pindah keluar kota, menahan pohon-pohon di halaman rumah kita.
• Sedangkan kata “penuhilah bumi dan taklukanlah itu,” artinya kuasa manusia untuk memerintah. Dari situ dapat diperluas atas segala daerah kerajaan penciptaan yang muncul pada tiga hari pertama dan atas segala raja-raja makhluk dari tiga hari yang kedua.
• Sedangkan dalam ayat 29-31, secara jelas dan sempurna Allah membedakan status manusia dan binatang. Manusia diberi penghargaan sebagai subyek langsung penerima perintah Allah untuk menjadi penguasa seluruh ciptaan-Nya. Terlihat dari perbedaan jenis makanan untuk manusia dan binatang merupakan bukti bahwa manusia memiliki hal yang lebih tinggi atau lebih utama daripada binatang. Dalam banyak hal, Allah selalu membedakan antara kedudukan manusia dan binatang sampai pada puncaknya bahwa hanya kepada manusialah diberi kuasa atas seluruh ciptaan termasuk binatang-binatang tersebut.
• Kej 1:28 mengatakan manusia disuruh berkembang biak supaya memenuhi bumi, lalu menaklukkan dan menguasai bumi. Manusia diberi akal budi sebagai modal untuk bisa menaklukkan dan menguasai bumi. Caranya: akal budi manusia harus diasah atau dilatih melalui bersekolah untuk mempelajari bermacam-macam disiplin ilmu pengetahuan. Dengan ilmu ini manusia dapat menguasai alam. Misalnya: teknik sipil, fisika, kedokteran (biologi, farmasi atau pengobatan), ilmu ekonomi, dan lainnya.
• Ams 12:10 mengatakan orang benar memperhatikan hidup hewannya. Hewan harus dirawat, dipelihara, apalagi hewan yang sengaja diternakan: sapi, domba, dan lainnya. Hewan-hewan itu termasuk: (1) Hewan liar: dilindungi pemerintah, misal Ujung Kulon, di Semenajung Blambangan. (2) Hewan yang kita pelihara di rumah.

3. Yoh 15:1-8
Dalam Yoh 15:1-8 diajarkan tentang perumpamaan pokok anggur yang benar. Penguasanya: Allah Bapa, dan pokok anggur: Yesus Kristus. Ranting-ranting: orang-orang percaya.
Setiap ranting yang memisahkan diri (diputus) dari pohon anggurnya, ia akan mati. Demikian juga setiap orang percaya yang terpisah dari Allah atau Yesus, ia akan mati secara rohani. Di luar Allah hidup manusia akan mati (kering), lalu dibakar. Kalau ranting ini tetap pada pokok anggur, maka ia akan mengeluarkan banyak buah. Apabila dari hidup kita dikeluarkan banyak buah maka Bapa dipermuliakan. Sebaliknya, bila hidup kita tidak berbuah, maka kita harus dibuang atau dipisahkan dengan pohonnya.

VI. MANUSIA GAGAL MEMENUHI KEHENDAK TUHAN

1. Pengertian Dosa
Dalam PL sedikitnya dosa ada 8 kata dasar: khata, ra, pasha, awon, shagag, asham, rasha, dan taah, dan dalam PB ada 12 kata dasar: kakos, poneros, asebes, enokhos, hamartia, adikia, anomos, parabates, agnoein, planao, paraptoma, dan hipokrisis. Inti dari definisi dosa adalah tidak mencapai sasaran, kebejatan, pemberontakan, kesalahan, memilih jalan yang tidak benar, kejahatan, penyimpangan, keadaan tidak beriman, kebodohan, dan kesengajaan meninggalkan jalan benar. Jadi, sifat dosa terletak pada arah yang berbeda dengan kehendak Allah.
Rm 5:12 “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa”.
Rm 6:23 “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan Kita.”

2. Kehendak Tuhan
Dasar Alkitab: Kej 2: 15-17

“Kehendak Allah” (god will) dalam bahasa Ibrani PL banyak bentuknya, sebagai berikut: “hapes”: nasihat Allah, “rason”: kehendak yang baik, atau “esa”: nasihat Allah. Lalu makna dalam bahasa Yunani PB sebagai berikut: “boule”: rencana atau tujuan kekal Allah. Luk 7:30, Kis 2:23; 4:28, Ef 1:11 menggunakan kata “thelema”: kehendak hati-Nya atau menurut kesudian Allah. Rm 12:2; Ef 1:9; 5:17 menggunakan kata “eodokia”: kesukaan.
Jadi, kehendak Allah bersifat ketuhanan dalam tujuan manusia untuk melepaskan proses kehidupan duniawi. Dengan melakukan kehendak Allah, manusia memasuki proses pembebasan dari dosa melalui Yesus Kristus – penderitaan Yesus, kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya.

3. Konteks Ef 5:17
Ef 5:17 “Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Allah.”

Bila manusia melihat konteks Ef 5:17, maka kehendak Allah di sini adalah kita harus hidup dalam Kristus. Kita terbebas dari dosa melalui Yesus Kristus. Dahulu kita hidup dalam kegelapan tetapi kini kita hidup dalam terang Tuhan (Ef 5:8). Artinya, terang Tuhan inilah kehendak Allah itu. Dan dengan terang Tuhan kita membukaan kebaikan, keadilan, dan kebenaran (Ef 5:9).
Kenapa kita melakukan kehendak Allah? Sebab, dengan melakukan kehendak Allah kita membungkamkan kepicikan orang-orang bodoh (1 Ptr 2:15). Orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya (1 Yoh 2:17). Dan, yang terpenting, dengan melakukan kehendak Allah, watak kita dirubah menyerupai Yesus Kristus. Sepanjang hidup Yesus, Ia hidup tidak keluar rel kehendak Allah (Ibr 10:7,9). Karena kehendak-Nya kita telah dikuduskan satu kali untuk selamanya oleh teladan Yesus Kristus (Ibr 10:10).
Kehendak Allah dalam konteks Ef 5:17 tidak kita pahami sebagai tuntutan, tetapi sebagai ekspresi atau kecenderungan kesenangan atas apa yang Allah sukai, sehingga menimbulkan sukacita.

4. Sifat Kehendak Allah
Sifat kehendak Allah:
• Tidak berubah-ubah.
• Bebas dengan reaksi untuk kreatifitas. Kreatifitas, pemeliharaan, dan keselamatan adalah kebebasan seni Allah. Itu dapat dikatakan bahwa Allah melawan dosa. Pembebasan dari dosa kita oleh Allah melalui Yesus Kristus, penderitaan Yesus, kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya.
• Kehendak Allah adalah absolut tidak tergantung dengan segala sesuatu di luar dia, tetapi tidak lepas dari kekudusan, kebenaran, keadilan, dan kebaikan-Nya. Dengan demikian, ada beberapa hal yang Allah tidak dapat lakukan yang bertentangan dengan karakter dasar-Nya. Misalnya, berdusta. Itu tidak sesuai dengan karakter-Nya. Dia setia, tetapi disuruh tidak setia, itu tidak bisa. Puncak tertinggi dari kehendak Allah adalah diri-Nya sendiri.
• Kehendak Allah dianugerahkan oleh Allah kepada manusia. Kalau manusia mentaati atau hidup dalam kehendak Allah – hidup berakar dalam Allah – ia berbuah. Buahnya adalah manusia itu hidup menjadi terang, penuh tuntutan Roh Kudus, dan selalu (dengan setia) doanya dikabulkan oleh Allah (1 Yoh 5:14).
• Kehendak Allah itu bersifat kekal, setia, dan tidak mengkhianati manusia.

5. Pemberontakan terhadap Kehendak Allah
Adam dan Hawa ditaruh Allah ke taman Eden atau Firdaus. Allah menyuruh agar Adam dan Hawa tidak memakan pohon pernyataan baik dan jahat yang di tengah taman itu. Sedangkan di sekelilingnya boleh dimakan. Iblis mengatakan bahwa pohon-pohon di taman ini tidak boleh dimakan. Engkau tidak akan mati. Engkau akan menjadi seperti Allah: tahu hal yang dan yang tidak baik.
Sampai saat itu Adam dan Hawa hanya mengetahui yang baik saja. Hawa ingin tahu yang tidak baik. Hawa: melihat buah itu baik (mata), dimakan (tubuh), ia mengulur tangan (berbuat), ia makan. Akibatnya: mereka menyadari kekurangan, dosa mereka. Reaksinya: menutupi (perbuatan), bersembunyi, takut, melempar atau melontarkan kesalahan kepada orang lain.

Cara Iblis memberontak Allah sebagai berikut:
• Iblis suka memutarbalik Firman (Kej 2: 15-17).
• Melalui mata; melalui tubuh: makanan; kepandaian: kebijaksanaan (Kej 3: 6-7)..
• Tubuh: makanan; meragukan firman; daya tarik dunia (Mat 4: 1-11).
• Tubuh: daging; mata, keseimbangan (1 Yoh 2: 16-17)

Iblis paling banyak menjatuhkan manusia melalui: tubuh (3 kali), mata (2 kali), lain-lain (1 kali). Mengapa Iblis mencari manusia? Ketika Iblis dibuang dari surga ke bumi, ia menyeret 1/3 dari malaikat Allah. Sedangkan, manusia adalah makhluk hebat, mempunyai sifat-sifat seperti Allah, jumlahnya bertambah, jiwanya kekal. Dan, Iblis mau mengajak manusia untuk melawan Allah. Ia ingin menjatuhkan manusia ke dalam dosa. Alasannya, manusia bertambah banyak, sedangkan makhluk rohani (malaikat, Roh jahat) tidak banyak.

6. Akibat Pemberontakan
• Kej 2:17 “pada hari engkau memakannya, pastilah engkau akan mati”. Tetapi, mereka tetap hidup setelah mereka makan? “Mati” di sini berarti mati rohani, dan tidak lagi mempunyai hubungan dengan sumber hidup, yaitu Allah.
• Kej 3:23 mereka dikeluarkan dari Eden.
• Kej 6: 1,5 jumlah manusia bertambah (secara kuantitatif, memenuhi perintah Allah), tetapi mereka perbuatan dan pikirannya jahat (secara kualitatif tidak memenuhi perintah Allah). Kecenderungan manusia untuk berbuat dosa, ternyata menurun seperti sifat-sifat tubuh, sifat-sifat kejiwaan (Rm 3:23; 5:12).
• Manusia seharusnya dihukum di nereka, tetapi Tuhan Allah menawarkan keselamatan kepada manusia, melalui Anak-Nya, Yesus Kristus. Contoh: Manusia pada zaman Nuh, Allah menghukum dengan memusnahkan semua manusia kecuali manusia yang ada dalam bahtera.
• Umur manusia menjadi pendek.
• Kej 3:16,17 Adam harus bekerja keras untuk mencari nafkah. Hawa mengalami penderitaan pada waktu hamil, dan rasa sakit pada waktu bersalin.

VII. KESELAMATAN MANUSIA

Dalam agama atau kepercayaan manusia berusaha mencari jalan keselamatannya. Di bawah ada berbagai pandangan keselamatan sebagai berikut:

1. KESELAMATAN NON KRISTEN

1. Agama Suku
Keselamatan agama suku – baik animisme, dinamisme, totemisme, dan spiritisme – melalui upacara. Semakin ia sering upacara maka ia semakin bisa selamat. Karena dalam upacara itu seseorang akan memperoleh:
• Animisme misalnya. Daya kekuatan keagamaan yang magis dan hubungannya dengan binatang. Keselamatan dirinya bergantung pada mati hidupnya binatang yang dianggap sebagai sesuatu yang dapat memberinya kekuatan magis.
• Dinamisme misalnya. Sebelum melakukan upacara seseorang Dinamisme harus melalui tahapan puasa, bertarak, dan bertapa menjadi suatu alat kekuasaan untuk mendapat daya kekuatan yang luar biasa. Dengan melalui puasa, bertarak dan bertapa seseorang akan menjadi sakti dan memperoleh kekuatan yang luar biasa. Dengan kekuatan inilah orang tersebut dapat hidup lebih lama.

2. Agama Hindu
Siapa yang ingin mendapatkan keselamatan ia harus dapat menghapuskan segala keinginannya. Syaratnya adalah pengenalan akan dirinya sendiri sebagai “aku ini” ia akan bebas dari mati. Seseorang harus dapat menguasai Atmannya yang berfungsi sebagai pusat dari fungsi jasmani dan rohani manusia.

3. Agama Budha
Keselamatan atau Nirwana bisa diperoleh manusia dengan cara manusia hidupnya di bumi bisa mencapai delapan tingkat Kebajikan. Kalau ia meninggal dan belum berhasil mencapainya, maka ia akan inkarnasi kembali ke bumi untuk mencapai delapan tingkatan kebajikan tersebut. Tingkat jalan keselamatan sebagai berikut: Samma Ditthia (percaya yang benar), Sila (untuk mencapai keselamatan tidak cukup dengan pengetahuan saja, tetapi dituntut dengan moral), Samadhi, dan Wimoksa (keselamatan atau kelepasan).

4. Agama Yudaisme
Untuk mencapai keselamatan seseorang harus menyembah kepada Allah dan taat akan Taurat. Bila seseorang tidak melakukan Hukum Taurat atau melanggar salah satu dari perintah Hukum Taurat, maka orang tersebut tidak akan memperoleh keselamatan.

5. Agama Islam
Pandangan agama Islam terhadap keselamatan, yaitu dengan melakukan amal atau berbuat baik. Seseorang harus mengucapkan syahadat percaya Allah dan Muhammad, serta berbuat amal. Keselamatan seseorang tergantung dari amal orang itu selama ia hidup di bumi.

2. KESELAMATAN KRISTEN

Keselamatan dalam bahasa Ibraninya “Yesyu’a” dan bahasa Yunaninya “Soteria”. Keselamatan mengandung arti tindakan hasil dari pembebasan atau pemulihan dari bahaya, penyakit mencakup kesehatan, keselamatan dari hukuman. Soteriologi berkaitan dengan pelimpahan berkat keselamatan kepada orang berdosa dan pembaruan yang dialaminya berkenaan dengan kehendak ilahi agar mereka dapat menikmati hidup dalam persekutuan yang intim dengan Allah.
Keselamatan mempunyai arti: menunjukan seseorang terlepas dari tempat kejatuhannya kembali ke kedudukan semula, atau seseorang terlepas dari kuasa dosa lalu mendapatkan kesucian, atau seseorang terlepas dari kuasa maut lalu mendapatkan hidup, atau seseorang terlepas dari kedudukannya yang bermusuhan dengan Allah dan mendapatkan kedudukan yang berdamai, atau seseorang terlepas dari kedudukannya sebagai hamba dan mendapat kedudukan sebagai anak, atau dari kegelapan berpaling kepada terang.
Allah hanya memiliki satu rencana keselamatan, namun Ia mempunyai berbagai cara untuk menangani manusia berhubungan dengan rencana keselamatan tersebut. Hal itu terjadi dalam jangka waktu yang panjang. Masa persiapan yang sangat panjang ini sangat diperlukan. Dalam Gal 4:4 menyatakan, “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.”

Masa persiapan yang begitu lama ini mempunyai tiga tujuan:
• Untuk memperlihatkan kepada manusia sifat dosa yang sesungguhnya dan betapa dalamnya kebejatan yang ke dalamnya manusia telah terperosok.
• Menyatakan kepada Allah bahwa manusia tidak berdaya untuk memelihara atau memperoleh kembali pengenalan yang memadai akan Allah, juga tidak berdaya untuk membebaskan dirinya dari dosa dengan memakai bantuan filsafat dan kesenian.
• Serta mengajarkan kepada manusia bahwa pengampunan serta pemulihan hubungan dengan Allah hanya dapat terjadi berdasarkan pengorbanan seorang pengganti. Sejarah menunjukkan betapa tidak sempurnanya pemahaman dunia akan kebenaran-kebenaran ini. Sekalipun demikian, pemahaman yang tidak sempurna pun sudah cukup bagi Allah untuk memperkenalkan Sang Juruselamat kepada umat manusia.

1. Sekali Diselamatkan untuk Selamanya
Ibr 5:9 “dan sesudah ia mencapai kesempurnaanNya, ia menjadi pokok anggur keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepadaNya”. Keselamatan itu sifatnya abadi.
Yoh 10: 28,29 “dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tanganKu. BapaKu, yang memberikan mereka kepadaKu, lebih besar dari pada siapapun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa”. Keselamatan itu tidak binasa selama-lamanya.

2. Keselamatan adalah Anugerah Allah
• Anugerah adalah permberian cuma-cuma. Jadi, keselamatan adalah pemberian cuma-cuma, tanpa seseorang harus membayar apalagi mengorbankan nyawanya.
• Anugerah adalah kesempurnaan Allah berkenaan dengan bagaimana Ia menunjukkan kebaikan-Nya yang tidak memerlukan jasa manusia. Satu anugerah Allah ini menyatakan diri-Nya sendiri dalam berbagai macam karunia atau pekerjaan. Manifestasi tertinggi dari Allah dapat dilihat dalam pekerjaan-pekerjaan Allah yang penuh kasih yang ditujukan pada dan menghasilkan penghapusan dosa, kecemaran dan hukuman atas dosa dan keselamatan bagi orang berdosa.
• Jangkauan anugerah ditentukan oleh ketetapan untuk menentukan orang pilihan. Anugerah ini terbatas pada orang pilihan saja.
• Anugerah menyingkirkan kesalahan dan hukuman dosa, mengubah keadaan batiniah manusia, dan sedikit demi sedikit membersihkan dia dari kecemaran dosa melalui pekerjaan Roh Kudus yang supranatural. Pekerjaan ini terutama dalam keselamatan orang berdosa.
• Anugerah tidak dapat ditolak, namun sama sekali tidak berarti bahwa anugerah merupakan satu kekuatan yang mengharuskan manusia percaya melawan kehendak dirinya sendiri, tetapi justru melalui perubahan yang dilakukannya di dalam hati, maka anugerah ini menjadikan manusia berkemauan menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat dan mau taat sepenuhnya pada kehendak Allah.
• Anugerah bekerja dengan cara yang spiritual dan rekreatif, memperbarui keseluruhan natur manusia dan menjadikan manusia mampu dan mau menerima tawaran keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus dan menghasilkan buah-buah Roh.

3. Keselamatan Hanya melalui Yesus
Setelah manusia pertama Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, menyebabkan semua keturunannya berdosa. Semua manusia tidak ada yang benar, seorang pun tidak (Rm 3:10). Semua manusia telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Rm 3:23). Dan sebagai upahnya adalah maut (Rm 6:23). Karena manusia telah berdosa, maka hubungan antara Allah dan manusia menjadi terputus, manusia tidak dapat sampai kepada Allah. Segala yang dilakukan manusia untuk mencapai keselamatan adalah sia-sia, entah itu dengan melakukan perbuatan baik atau amal, sebab segala perbuatan baik manusia hanyalah merupakan kain kotor saja di hadapan Tuhan (Yes 64:6).
Setelah semua cara yang sebelumnya dipakai untuk mendapatkan keselamatan sia-sia, akhirnya sang Juruselamat sendiri yang datang. Tuhan mengetahui bahwa manusia tidak mungkin dapat memperoleh keselamatan hanya dengan usahanya sendiri, karena manusia tidak ada yang sempurna. Maka sebagai jalannya adalah Allah datang sendiri ke dalam dunia, melalui Anak-Nya yang tunggal, yaitu Yesus Kristus untuk menebus manusia dari dosa dan membawa manusia kepada keselamatan (Yoh 3:17). Hal ini dilakukan karena kasih Allah yang besar akan dunia ini. Sehingga setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16). Sebab manusia hanya dapat dibenarkan oleh karena kasih karunia-Nya (Rm 3:24). Dengan kematian-Nya, Tuhan Yesus mengadakan pendamaian untuk dosa orang-orang percaya dari zaman PL dan dari zaman PB (Rm 3:21-26).
Sekarang Allah menawarkan kepada setiap orang keselamatan melalui Yesus Kristus. Sebelumnya keselamatan hanya dipahami secara samar-samar, kini seluruh rencana itu telah terpampang, sehingga siapa saja dapat mengetahuinya. Keselamatan yang ditawarkan oleh Allah adalah bagi semua orang, tidak terbatas pada umat Israel saja atau kepada orang-orang tertentu saja, tetapi untuk semua orang tanpa terkecuali (Rm 10:112-13). Namun ada satu hal yang perlu diingat, keselamatan yang ditawarkan Yesus adalah bagi orang yang mau percaya. Dalam hal ini tidak hanya terbatas pada percaya saja, tapi mengakui-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi. Sebab bila hanya percaya saja, Iblis pun percaya, namun ia tidak memperoleh keselamatan itu.
Apa yang diberikan Yesus kepada manusia, yaitu keselamatan dapat diperoleh manusia melalui jalan anugerah. Melalui Roh Kudus, Allah menarik dan mengajak orang kepada Yesus Kristus dan pertobatan. Kemudian Allah membawa orang itu kepada pilihan untuk memutuskan kehendaknya, apakah ia mau bertobat dan menyambut Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya. Demikian pula pilihan terakhir harus dari kehendak manusia. Allah menghendaki agar semua orang tidak binasa (2 Ptr 3:9).
Anugerah keselamatan yang diberikan oleh Allah dapat membuat dosa manusia walaupun merah seperti kirmizi, dapat menjadi putih seputih salju (Yes 1:18). Kita telah dihidupkan kembali dengan Kristus sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita, dan oleh kasih karunia-Nya kita diselamatkan.

4. Keselamatan Diperoleh melalui Iman
Iman sangat penting bagi orang Kristen, karena tanpa iman ia tidak mungkin berkenan kepada Allah (Ibr 11:6). Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr 11:1). Perkataan Ibrani yang diterjemahkan “iman” sebenarnya berarti “menyokong” atau “meneguhkan”. Perkataan Yunani yang diterjemahkan “iman” atau “percaya” sebenarnya berarti “berharap kepada-Nya” atau “bersandar pada-Nya”. Jadi kita disokong oleh Allah, dan yakin bahwa kita bersandar kepada-Nya. Iman mengandung unsur ilahi dan kemanusiaan. Iman adalah karunia Allah dan juga tindakan manusia. Tujuan iman adalah pribadi Yesus Kristus. Iman yang menyelamatkan adalah iman kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat.
Perkataan “iman yang menyelamatkan” yang dimaksud bukanlah iman yang lain daripada biasa, melainkan iman yang membawa keselamatan kepada kita. Iman yang menyelamatkan ialah penyerahan jiwa yang najis dan berdosa kepada Tuhan, serta menyambut Yesus Kristus sebagai sumber pengampunan, kesucian, dan kehidupan (Mat 11:28,29; Kis 16:31; Yoh 1:12; 20:31; Ef 3:17; Why 3:20). Iman yang menyelamatkan adalah percaya dengan hati (Rm 10:9,10). Iman yang hanya ada dalam pikiran sebagai pengetahuan tidak cukup untuk memberikan keselamatan.
Keselamatan kita tidak bergantung pada perbuatan baik atau amal kita. Keselamatan kita semata-mata hanya bergantung pada iman kita kepada Yesus Kristus. Akan tetapi, sesudah kita diselamatkan tidak dapat tidak kita akan melakukan perbuatan baik, sebab hal itulah yang berkenan kepada Bapa, agar kita menjadi sama seperti Kristus. Iman adalah suatu sikap terhadap Yesus Kristus, tetapi perbuatan baik adalah hasil iman. Iman membawa kita kepada perbuatan-perbuatan yang baik.
Kapan seseorang mempunyai iman atau beriman? Sejak Ia mengaku dengan mulutnya sendiri bahwa Yesus adalah Juruselamat yang mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa manusia, termasuk dosanya sendiri. Sejak itulah ia menjadi orang yang beriman.

Akibatnya, setelah seseorang beriman kepada Yesus Kristus?
• Ia diselamatkan dan dosa-dosanya diampuni (Ef 2:8; Kis 10:43).
• Ia dibenarkan (Rm 3:28;5;1; Flp 3:9).
• Ia mendapat hidup yang kekal (Yoh 20:31).
• Pada saat diselamatkan Kristus tinggal di dalam hatinya (Ef 3:17).
• Tubuhnya disembuhkan (Yak 5:14,15; Mat 9:22,29).

5. Bukti Seorang Diselamatkan:
• Perubahan hidup (Gal 2:20): dari hidup untuk diri sendiri menjadi hidup untuk Tuhan.
• Perubahan tabiat (1 Ptr 1:2): durhaka menjadi taat.
• Perubahan kehidupan (1 Yoh 1:3-6): dari kegelapan menjadi terang.
• Perubahan yang baik (Fil 3:7-8): dari anggapan bahwa dunia sebagai yang paling berharga berubah menjadi Kristus yang paling berharga.
• Perubahan otoritas (Kis 16:6-7): dari semuanya sendiri menjadi demi Tuhan, Roh Kudus dan untuk Tuhan.
• Perubahan sikap (2 Kor 3:9-18): menghina diri berubah menjadi memuliakan nama Tuhan.
• Perubahan pelayanan (Rm 6:13,19): dari melayani dosa, menjadi melayani Tuhan.

download