Doktrin Tentang Allah

DOKTRIN TENTANG ALLAH
Disusun oleh : Dwi Indarti, M. Th.

Pendahuluan

Kita harus menyadari bahwa setidaknya ada 4 golongan agama, yaitu :
(1) ‘Theisme’ – Tuhan yang berpribadi (Yahudi, Kristen, Islam),
(2) ‘Monisme’ – Tuhan kekuatan semesta (Hindu-Upanishad, Tao dan Kebatinan),
(3) Non-Theis – Tuhan yang ‘non-exist’ (Buddhisme), dan
(4) Demonisme – Tuhan Okultis (satanisme). Bisa juga dimasukkan ‘politheisme’ (Hindu-Veda) sebagai golongan ke-5.
Sudah jelas ke-empat (atau ke-lima) bentuk Tuhan itu tidak sama, namun harus diakui bahwa Tuhan ‘Theisme’ (Yahudi, Kristen, Islam) adalah Tuhan Semitik agama samawi yang berpribadi, berfirman dan menurunkan wahyu kepada umatnya, jadi sekalipun kita menyebut Tuhan Theisme Yahudi, Kristen dan Islam menunjuk pada oknum yang sama namun sekalipun ada yang sama juga ada yang berbeda ajaran/aqidahnya, sedang Tuhan Theisme, Monisme, Non-Theisme, dan Demonisme jelas berbeda baik sebagai nama oknum maupun ajaran/aqidahnya.
Agama Yahudi, kepercayaannya hanya bergantung kepada Perjanjian Lama, akibatnya mereka memandang Tuhan ‘El’ (yang sejak Musa diberi nama juga sebagai ‘Yahweh’ (Kel. 6:1-2) sebagai Tuhan monotheisme yang transenden dengan hukum Taurat sebagai pedoman, namun agama Kristen berbeda dan menerima kenyataan bahwa El Abraham itu juga telah menyatakan diri dalam oknum Yesus dalam ke-Tritunggalannya, dan hukum kasih/Injil menjadi pedomannya.
Pengenalan akan Allah
Apakah mungkin manusia dari dirinya sendiri mengenal Allah, apakah ada jalan yang berpangkal dari manusia menuju ke pengetahuan tentang Allah?
Plato menjawab pertanyaan ini secara positif: YA, ADA. Dalil Plato ialah yang ilahi itulah Tuhan, bukan Tuhan adalah yang ilahi. Bagi Plato yang penting ialah yang ilahi dahulu, seolah-olah ada sesuatu yang ilahi, lalu yang ilahi ini dianggap Tuhan. Yang disebut Tuhan harus memiliki tabiat ilahi, dan bahwa tabiat ilahi ini harus bersifat rohani dan akali (spiritualist dan intellectualist), dalam arti sebagai lawan dari segala yang bersifat bendawi atau jasmani (materialist). Segala sesuatu yang tidak memenuhi tabiat ilahi ini harus ditolak sebagai Tuhan. Manusia, sepanjang ia lebih daripada yang jasmani, mendapat bagian dari tabiat yang ilahi itu.
Mengherankan sekali bahwa pandangan yang demikian itu, yaitu bahwa akal manusia sendirilah yang menentukan bagaimana seharusnya yang ilahi, hingga berabad-abad mempengaruhi, bahkan menguasai pemikiran tentang Allah, bukan hanya di antara para ahli pikir Kristen, tetapi juga para ahli pikir Islam. Ajaran Roma Katolik yang mengenal pengetahuan tentang Allah yang dengan perantaraan akal itu disebut theologia naturalis, theologia kodrati atau alami.

Pengenalan akan Allah dalam Perjanjian Lama
Menurut Alkitab Perjanjian Lama, sebenarnya tidak hanya ada satu atau dua kata saja yang dipakai untuk mengungkapkan perkenalan Allah dengan manusia. Dalam kitab Kejadian 12:1-3 Allah berfirman kepada Abraham supaya ia pergi dari negerinya dan dari sanak saudaranya serta dari rumah bapanya ke negeri yang akan ditunjukkan Allah kepadanya dengan janji, bahwa Allah akan menjadikan Abraham menjadi bangsa yang besar, dan menjadikan dia berkat bagi para bangsa. Di sini tidak diperoleh kesan bahwa firman itu diberikan dengan bisikan ilahi di dalam hati Abraham, sebab cara pertemuan Allah dengan Abraham ini berkali-kali diulangi sebagai pertemuan pribadi dengan pribadi, sebagai pertemuan antara aku dan engkau.
Di dalam Perjanjian Lama disebutkan juga bahwa Allah memperkenalkan diri-Nya dengan melalui karya-karya-Nya, baik yang dilakukan dalam bentuk penampakan-penampakan (semak duri yang bernyala, tiang awan, malaekat Tuhan, dan sebagainya) maupun yang dilakukan dalam bentuk perbuatan-perbuatan besar yang menakjubkan (menyeberangi Laut Teberau, manna, air keluar dari batu karang, dan sebagainya). Semua itu adalah sarana Allah guna memperkenalkan diri atau menyatakan diri-Nya kepada manusia.
Di catatan Perjanjian Lama ada lebih dari 40 kali Allah menampakkan diri kepada para nabi dan penulis kitab-kitab Perjanjian Lama. Abraham berjumpa dengan Tuhan (kej 12:6-7 dan Kej 18). Tuhan menampakkan diri kepada Ishak (Kej 26:1-6), Yakub bergumul dengan Allah di sungai Yabok (Kej 32:22-32), Musa bercakap-cakap dengan Allah di gunung Horeb (Kel 3:1-4:17), Yosua bertemu Tuhan (Yos 5:13-15) dan masih banyak lagi ayat-ayat yang lain. Di perjanjian Lama tercatat bahwa Allah menampakkan diri kepada manusia lebih dari 40 kali.
Namun di sisi lain Alkitab juga mengatakan tidak seorangpun yang pernah melihat Allah karena Allah memang tidak bisa dilihat (Yoh 1:18a). Apakah itu berarti yang dilihat oleh orang-orang di Perjanjian Lama adalah bohong dan khayalan seperti yang banyak ditafsirkan oleh para psikolog modern dan para penentang Alkitab, termasuk para ateis?
Jawabannya adalah pada waktu di dalam Perjanjian Lama dikatakan Allah menampakkan diri sebenarnya itu adalah cara Tuhan menampakkan diri kepada manusia dengan cara yang disebut dengan cara antropomorfi (Yunani: anthropos=manusia, morphe=bentuk). Maksudnya Allah menyatakan diri kepada mata manusia dalam rupa atau bentuk manusia atau dalam hal yang bisa dilihat oleh manusia. Istilah yang dipakai di ayat-ayat Perjanjian Lama itu biasanya memakai kata Utusan/Malaikat Allah.
Lalu siapa sebenarnya yang dilihat oleh orang-orang di Perjanjian Lama itu jika kita adukan dengan Yoh 1:18a? Sebenarnya yang menampakkan diri kepada mereka itu bukan pribadi Allah Bapa, tetapi Utusan Tuhan (The Messenger of God). Bapa memang tidak pernah turun ke bumi, bahkan kemungkinan Pribadi Kedua (Yesus Kristus) lah yang sebenarnya yang pernah menampakkan diri secara sementara di peristiwa-peristiwa di Perjanjian Lama itu; inilah yang dimaksud dengan antropomorfi.
Antropomorfi tidak sama dengan Inkarnasi. Di dalam inkarnasi-Nya Yesus betul-betul bersalut dengan daging dan darah, betul-betul dilahirkan melalui anak dara Maria dan hidup di tengah-tengah manusia, sehingga Ia disebut Immanuel yang berarti Allah beserta kita (Mat 1:23). Jadi, orang-orang di Perjanjian Lama sebenarnya sudah melihat Kristus dan ini artinya tidak bertentangan dengan kalimat yang mengatakan bahwa tak seorangpun pernah melihat Allah (Yoh 1:18a), karena memang Allah tidak bisa dilihat.
Ia berada di tempat dan di tahkta-Nya yang tak bisa dinampak oleh mata jasmani manusia, tetapi Anak Tunggal yang ada di pangkuan Bapa lah yang menyatakan-Nya. Maksudnya adalah Allah Bapa (Pribadi Pertama) tidak pernah menyatakan diri dalam bentuk fisik sehingga tidak pernah dilihat oleh mata fisik manusia. Tetapi Allah Anak pernah turun ke dalam dunia menyatakan siapa Allah (Bapa) itu kepada umat manusia. Puji Tuhan! Kita bersyukur dan memuji HALELUYA kepada Tuhan sebab Dia pernah turun ke dalam dunia untuk menebus dosa kita sehingga kita bisa kembali mengenal siapa Allah (Bapa) yang sejati di dalam Yesus Kristus itu.
Jikalau segala perkenalan Allah itu diselidiki secara mendalam, tampaknya segala kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang menunjukkan kepada perkenalan Allah kepada manusia itu hampir semuanya dikaitkan dengan penyataan tentang janji Allah. Allah memperkenalkan diri-Nya di dalam janji-janji-Nya dan di dalam sejarah janji-janji itu.

Pengenalan akan Allah dalam Perjanjian Baru
Di dalam Alkitab Perjanjian Baru, banyak kata-kata yang dipakai untuk mengungkapkan perkenalan atau penyataan Allah itu. Dari sekian banyak kata-kata itu mungkin kata αποκαλυπτω – apokaluptô (“reveal, pengungkapan”) dan φανεροω – phaneroô (“terbuka”) merupakan kata yang mempunyai arti yang agak khas, asal pengertian perkenalan atau penyataan Allah tadi tidak hanya dijabarkan dari kata-kata ini saja.
Kata αποκαλυπτω – apokaluptô berarti mengambil tutup atau mengambil selubung, sehingga tampaklah apa yang tertutup atau diselubungi. Kata phaneroô berarti “terbuka”, karena disingkapkan selubungnya. Perbedaan antara kedua kata itu ialah demikian, bahwa kata yang pertama menunjuk kepada tindakan mengambil tutup, sedangkan kata yang kedua menunjuk kepada hasil penyingkapan selubung tadi.
Berdasarkan makna kata itu, yang diungkapkan dengan istilah “penyataan” atau perkenalan adalah gagasan, bahwa sesuatu yang semula tertutup atau tidak dapat diketahui, karena diselubungi, menjadi dapat diketahui, karena selubungnya telah disingkapkan.
Sekalipun kata “αποκαλυπσις – apokalupsis” (kata nama benda dari kata kerja αποκαλυπτω – apokaluptô) di dalam Alkitab diterjemahkan dengan wahyu (yaitu kitab yang terakhir dari Alkitab), namun di sini dipilih terjemahan penyataan . hal ini disebabkan karena kata wahyu mempunyai arti yang berlainan dengan kata “αποκαλυπσις – apokalupsis” tadi.
Dalam pengertian penyataan yang diajarkan Alkitab terkandung gagasan, bahwa Allah “keluar dari tempat persembunyian-Nya”, memperkenalkan diri-Nya kepada umat manusia. Ia menyingkapkan selubung yang menyelubungi-Nya, dengan “tampil ke depan”, “berbuat di dalam sejarah” dan menyatakan kehendak-Nya di dalam hidup manusia. Ilustrasi sederhana, jika saya pindah ke sebuah desa atau kampung yang orang-orangnya belum kenal dengan saya, maka orang-orang desa atau kampung tadi akan mengenal saya dari kata-kata dan perbuatan saya. Dari situ mereka akan tahu, apakah saya ini orang baik hati atau tidak, dan seterusnya.
Oleh karena itu tujuan terakhir dari penyataan Tuhan Allah bukanlah kebahagiaan manusia, melainkan kemuliaan dan kehormatan Tuhan Allah sendiri. Roma 11:36
LAI TB, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”

Keberadaan Allah

1. Argumentasi Alkitab

Keberadaan Allah adalah fakta yang tidak dapat diragukan. Kejadian 1:1 menyatakan, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Yesaya 45:5 menyatakan, ”Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah” Bandingkan dengan Roma 11:36 yang mengatakan, ”Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Keberadaan-Nya dan penyataan diri-Nya merupakan dasar Alkitab. Pada akhirnya, keberadaan Allah harus diterima melalui iman (Ibrani 11:6).

2. Argumentasi Ontologis

Bentuk argumentasi ontologis yang paling populer pada dasarnya menggunakan konsep keTuhanan untuk membuktikan keberadaan Allah. Hal ini dimulai dengan mendefinisikan Allah sebagai, “sesuatu yang paling besar yang dapat dipikirkan.” Tokohnya adalah Anselmus (1033-1109).

3. Argumentasi Teleologis

Argumentasi teleologis mengatakan karena alam semesta mempertunjukkan desain yang begitu luar biasa, pastilah ada seorang desainer Illahi. Pandangan purba ini masuk ke dalam pikiran dunia barat melalui percakapan Plato, Timaeus. Dikatakan, bukti-bukti perencanaan dan tujuan dalam alam semesta mengharuskan adanya Perencana umum, yaitu Allah.

4. Argumentasi Kosmologis

Argumentasi kosmologis mengatakan bahwa setiap akibat pasti ada penyebabnya. Alam semesta dan segala isinya adalah akibat atau hasil. Pastilah ada sesuatu yang mengakibatkan segalanya ada. Pada akhirnya, haruslah ada sesuatu yang “tidak disebabkan” yang mengakibatkan segala sesuatu ada. Sesuatu yang “tidak disebabkan” itu adalah Allah. Tokohnya yaitu Aquinas (kira-kira 1225-1274).

5. Argumentasi Moral

Argumentasi moral mengatakan bahwa setiap kebudayaan dalam sejarah selalu memiliki sejenis hukum/peraturan. Setiap orang memiliki perasaan benar dan salah. Pembunuhan, berbohong, mencuri dan imoralitas hampir selalu ditolak secara universal. Dari manakah datangnya perasaan benar dan salah ini kalau bukan dari Allah yang suci?
Pernyataan klasik dari pandangan ini diberikan oleh Kant, yang mengatakan bahwa Allah (dan kebebasan dan kekekalan) adalah ”landasan” kehidupan moral, yaitu kepercayaan dahulu yang mengakibatkan perasaan akan kewajiban moral tanpa syarat.

Nama-nama Allah
Nama-nama Allah Dalam Perjanjian Lama
~yhil{a/ (°§lœhîm) : Allah itu kuat dan berkuasa
Kata El dan Elohim (Kej 1:1) berarti Allah itu kuat dan berkuasa, sehingga menurut Pdt. Thomy J. Matakupan, manusia harus takut akan Allah. Mengapa? Karena Allah itu Pencipta, tidak terbatas dan Sumber, sedangkan manusia itu berada di dalam 3 kondisi yang dipaparkan oleh Pdt. Dr. Stephen Tong, yaitu : created (dicipta), limited (terbatas) dan polluted (tercemar oleh dosa).
hw”ïhy> yhwh (´ädönäy); Yahweh : satu-satunya nama Allah (Keluaran 3:14-15)
Nama ini dianggap suci karena nama ini dikaitkan dengan kekekalan dan kesetiaan Allah khususnya mengenai kovenan/perjanjian-Nya terhadap manusia. Saat orang Israel menyalin Taurat dan mendapati nama Yahweh untuk ditulis, sebelumnya mereka mencuci tangan mereka supaya bersih, lalu mereka menulisnya. Begitu juga ketika mereka menemukan nama Yahweh di bagian kitab lainnya, mereka pun terus bertindak demikian. Ini membuktikan begitu sucinya nama Allah. Hal ini tentu berbeda dengan orang-orang “Kristen” di zaman postmodern yang cuek dengan Allah, bahkan memakai “Allah” sebagai bahan olok-olokan/Jawa : latha.
Elyon : Allah yang Mahamulia
Elyon menunjuk kepada sifat kemuliaan-Nya sebagai Yang Mahatinggi (Kej 14:18-19), objek pemuliaan dan penyembahan. Nama lain yang setingkat dengan ini adalah Adonai yang berarti Tuhan sebagai Pemilik dan Pemerintah dari seluruh umat manusia (bandingkan dengan istilah Kurios pada nama Allah di dalam Perjanjian Baru).

Nama-nama Allah Dalam Perjanjian Baru
qeo,j (Theos) : Allah
Nama ini seringkali dikaitkan dengan bentuk kepemilikan seperti “Allahku,” “Allahmu,” “Allah kita.” Ada unsur universalitas di dalam penyebutan nama Allah bagi semua umat pilihan-Nya. Ayat referensi antara lain: Mat 1:23; 3:9; Mrk 2:7
ku,rioj (Kurios) : Tuhan
Nama ini identik dengan kata Adonai di dalam Perjanjian Lama yang berarti Allah sebagai Pemilik dan Pemerintah dari segala hal, khususnya, dari umat-Nya. Lalu, nama ini juga dikenakan baik kepada Allah Bapa maupun Allah Putra (Tuhan Yesus Kristus). Oleh karena itu, sepanjang Injil Matius mengatakan bahwa kita harus men-Tuhan-kan Kristus karena Kristus adalah Raja/Tuhan. Mat 10:25; Mrk 5:19; Luk 1:25
path,r, pa,ter( patro,j (pater, patros): Bapa
Nama ini diimpor dari Perjanjian Lama yang menunjukkan hubungan khusus antara Allah dan Israel (Ulangan 32:6 ; Yesaya 63:16). Di dalam Perjanjian Baru, nama ini lebih bersifat pribadi yaitu Allah adalah Bapa dari semua umat pilihan-Nya. Sehingga, Paulus mengajarkan, “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!”” (Roma 8:15). Ini merupakan privilege (hak istimewa) anak-anak Allah dalam menyebut Allah sebagai Bapa mereka.

Signifikansi Mempelajari Nama-nama Allah
Nama-nama Allah juga memiliki signifikansi di dalam kehidupan kita sehari-hari, antara lain :
Pertama, mengajar kita berharap hanya kepada Allah. Di dalam Perjanjian Lama, kita sudah belajar mengenai nama Allah yang kekal dan setia terhadap kovenan-Nya. Berarti, di sini, kita perlu belajar untuk beriman dan berharap hanya kepada Allah di tengah ketiadaan pengharapan sejati. Hadirnya Mesias dinubuatkan di dalam Yesaya 7:14 merupakan suatu pengharapan sejati dari Allah di tengah ketiadaan pengharapan duniawi yang mengecewakan (konteksnya adalah dosa manusia). Di dalam pengharapan kita kepada Allah, berarti kita tidak perlu kuatir akan hidup kita selanjutnya, karena Allah yang memelihara kita. Tidak berarti, mulai sekarang, kita tidak perlu bekerja, dan hanya tidur seharian. Itu bukan ajaran Alkitab. Jangan ekstrim, Allah memang memelihara hidup kita selama kita tetap bekerja keras untuk memuliakan-Nya. Ingatlah, Amsal 6:6 memperingatkan kita, “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak:” Pemeliharaan dan kedaulatan Allah tidak meniadakan tanggung jawab manusia!
Kedua, mengajar kita tentang Allah yang Mahakudus sekaligus Allah yang menyatakan diri. Dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, kita belajar tentang nama Allah sebagai Tuhan, Pemilik dan Penguasa segala sesuatu termasuk kita sebagai umat-Nya. Hal ini berarti kita harus menghormati-Nya sebagai Allah yang patut disembah dan dipuji selama-lamanya. Di dalam ibadah dan keseharian kita, teladanilah pengajaran pemazmur, “Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar, supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murka-Nya menyala. Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Nya!” (Mazmur 2:11-12) Jangan bermain-main di dalam ibadah (misalnya, SMS, bermain HP, mengobrol, bersenda gurau, dll) karena di dalam ibadah, kita sedang bertemu dengan Allah yang Mahakudus yang siap menghukum kita yang bermain-main di dalam ibadah! Selain Mahakudus, Dia juga tetap adalah Allah yang menyatakan diri dan dekat dengan umat-Nya. Oleh karena itu, semua umat pilihan-Nya mendapatkan hak istimewa untuk memanggil Allah sebagai Bapa. “Bapa” menunjukkan adanya ikatan kekeluargaan yang dekat antara Pencipta dengan beberapa ciptaan/manusia yang menjadi anak-anak-Nya. Sebutan ini juga mengajarkan bahwa kita dapat menghampiri tahta-Nya yang kudus tanpa bantuan seorang pengantara, karena Kristus sebagai satu-satunya Pengantara telah menebus, menyelamatkan dan membenarkan kita.
Perdebatan Penggunaan Nama “Allah” di Indonesia
Islam sudah masuk ke Indonesia sejak abad ke-XIII, Kristen Katolik baru masuk abad ke-XVI dan Protestan pada abad ke-XVII, ini berarti sudah tiga abad lebih dimana agama Islam dan bahasa Arab sudah merakyat di Indonesia. Dalam perjumpaannya dengan rakyat Indonesia dengan bahasa Melayu (kemudian menjadi bahasa kesatuan) yang telah dimasuki kata-kata bahasa Arab selama tiga abad, maka dalam menyebut ‘Tuhan yang Maha Esa’ para pendeta Kristen menggunakan nama ‘Allah’ bahasa Arab yang sudah masuk kosa-kata bahasa Melayu waktu itu karena itulah bahasa lokal yang paling dekat dengan nama dalam Alkitab.
Kita harus sadar bahwa banyak kata-kata Arab digunakan oleh orang Kristen Arab sebelum digunakan oleh Islam Arab. misalnya disamping kata Allah, kata ‘Salam Alaykum’ (Lukas 24:13) sudah ada dalam Alkitab Peshita Siria pada abad ke-VI. Kata “Allah” dalam Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani אל – ‘EL, אלוה – ‘ELOAH, dan אלהים – ‘ELOHIM, dalam bahasa Aram אֱלָהָא – ‘ELAHA’ atau ‘ALAHA (sebagian kitab Ezra dan Daniel), dan dalam Perjanjian Baru Yunani ditulis ο θεος – HO THEOS.
* Daniel 2:20
LAI-TB, Berkatalah Daniel: ‘Terpujilah nama Allah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, sebab dari pada Dialah hikmat dan kekuatan!
Translit, ‘ANEH DANIYE’L VE’AMAR LEHEVE’ SYEMEH DI-’ELAHA’ MEVARAKH MIN-’ALMA’ VE’AD-’ALMA’ DI KHAKHMETA’ UGEVURETA’ DI LEH-HI’
‘ELOAH (Ibrani), ‘ALAHA atau ‘ ELAHA (Aram), dan ALLAH (Arab) memiliki akar kata yang sama.
Ibrani ‘alef – lamed – he’
Aram: ‘alap – lamad – he’
Arab: ‘alif – lam – haa

Pengucapannya mirip, asal bahasanya ‘nggak jauh beda karena sama-sama rumpun Semitik, akar katanya.

Ketika “nama ALLAH” dipermasalahkan, kita harus mengerti apakah kata ALLAH identik dengan Allah umat muslim saja? apakah itu nama berhala? Dalam naskah bahasa asli Alkitab kita Perjanjian Lama tertulis :
” בְּשֻׁם אֱלָהּ יִשְׂרָאֵל ; BESYUM ‘ELAH YISRA’EL” (Dalam Nama Allah Israel) di Ezra 5:1. Dalam Ezra 6:14 juga tertulis ” אֱלָהּ יִשְׂרָאֵל – ‘ELAH YISRA’EL” (Allah Israel).

* Ezra 5:1
LAI-TB, Tetapi nabi Hagai dan Zakharia bin Ido, kedua nabi itu, bernubuat terhadap orang-orang Yahudi yang tinggal di Yehuda dan di Yerusalem dalam nama Allah Israel, yang menyertai mereka.
Translit, VEHITNABI KHAGAI NEVIYAH NEVIYAH UZEKHARYAH VAR-IDO NEVIYAYA AL-YEHUDAYE DI VIHUD ‘UVIRO’USYLEM BESYUM ELAH YISRA’EL ‘ALEIHON

Kalimat ini tertera dalam Alkitab Perjanjian Lama ditulis dalam aksara Ibrani dengan pengertian bahasa Aram, bahasa yang notabene merupakan induk bahasa Arab. Dalam dialek bahasa Arab, kalimat itu dibaca ‘Bismilah’ (Dalam Nama Allah).
Maka kata ALLAH tidak identik dengan Allah umat muslim saja :
Contoh lain adalah di Kitab Ezra 5:1 yang dutullis dalam bahasa Aram ditulis kalimat berikut: “BASYUM ‘ELAHA’ YISRAEL”. Dan dalam Ezra 6:14 juga tertulis kata “‘ELAHA’”.

Kalimat “BASYUM ‘ELAHA’” ini tertera dalam Alkitab Perjanjian Lama ditulis dalam aksara Ibrani dengan pengertian bahasa Aram, bahasa yang notabene merupakan induk bahasa Arab. Dalam dialek bahasa Arab, kalimat itu dibaca ‘Bismilah’ (Dalam Nama Allah).

Jelas bahwa nama “Allah” sudah digunakan dalam Alkitab Perjanjian Lama pada abad 6sM, setidaknya 13 abad sebelum Al-Quran ditulis.

Kata Allah juga digunakan oleh umat Kristiani di Arab :

* Kejadian 1:1
LAI TB, Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.
Translit, BERESYIT BARA ‘ELOHIM ‘ET HASYAMAYIM VE’ET HA’ARETS
Arabic Bible Translit, [color=green]FEE AL-BADI’ KHALAQA ALLAHU AS-SAMAAWAAT WA AL-ARD.
Terhadap Perjanjian Baru, terjemahan untuk kata Yunani THEOS diterjemahkan ALLAH dalam bahasa Arab, contoh :

* Yohanes 17:3
TR, αυτη δε εστιν η αιωνιος ζωη ινα γινωσκωσιν σε τον μονον αληθινον θεον και ον απεστειλας ιησουν χριστον
Translit Interlinear, autê {ini} de {dan} estin {ia adalah} hê {yang} aiônios {kekal} zôê {hidup} hina {supaya} ginôskôsin {mereka mengetahui} se {Engkau} ton {yang} monon {satu-satunya} alêthinon {yang benar} theon {Allah} kai {dan} hon {yang} apesteilas {Engkau utus} iêsoun {Yesus} khriston {Kristus}

LAI TB menterjemahkan “theos” dengan kata Allah :

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”
Jadi, kesimpulan alasan penggunaan istilah/na-ma ‘Allah’ di kalangan Kristen Indonesia itu adalah bahwa:
(1) Bahasa Arab adalah rumpun Semit yang paling tua, paling berkembang, paling besar, dan bahasa Ibrani banyak dipengaruhi bahasa Arab (Aram);

(2) Orang-orang Arab Kristen sudah sejak lama sebelum adanya agama Islam menggunakan nama ‘Allah’ untuk menyebut ‘El/Elohim/ Eloah’ termasuk dalam Alkitab dalam bahasa Arab;

(3) Kata ‘Allah’ sudah masuk kosakata bahasa Melayu, apalagi sebelum agama Kristen masuk, Islam dan bahasa Arab sudah mempengaruhi budaya dan bahasa Melayu selama tiga abad lebih;

(4) Bahasa Ibrani sendiri sudah lama dipengaruhi bahasa Arab-Aram, sehingga bahasa Arab tidak asing lagi sebagai saudara sekandung bahasa Ibrani.
Berdasarkan hal-hal itu dapatlah diterima bila Alkitab dalam bahasa Melayu kemudian Indonesia menggunakan nama ‘Allah’ untuk menterjemahkan nama ‘El/ Elohim/Eloah’ dari bahasa asli Alkitab Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani, dan nama ‘Theos’ dari bahasa ‘Yunani Koine’ bahasa asli Perjanjian Baru.
Lagi pula, Tuhan Yesus sendiri ke-tika disalib berseru nama ‘Eloi/Eli’ dalam bahasa Arab-Aram yang menurut sumber-sumber sejarah Islam sendiri diakui sebagai bahasa Arab-Asli, karena itu kita di Indonesia tidak perlu mempersoalkan penggunaan nama Allah dalam bahasa Arab yang sejak dulu banyak mempengaruhi bahasa Ibrani.
Di naskah Alkitab Bahasa Ibrani dalam Perjanjian Lama, pernah tertulis nama ‘ALLAH’, dan kitab ini ditulis ribuan tahun sebelum masa Islam.

Sifat-sifat Allah
Allah Tritunggal telah menyatakan diri-Nya sedemikian rupa sehingga kita dapat mengenal beberapa sifat diri-Nya. Sifat-sifat Allah itu telah digolongkan menurut berbagai cara. Cara yang paling penting membedakan antara:
• sifat-sifat yang unik (Ing. incommunicable), seperti keberadaan diri-Nya yang tidak ada kesejajaran dengan manusia; dan
• sifat-sifat yang tidak unik (Ing. communicable), seperti kasih atau keadilan, yang dapat dicerminkan dalam makhluk moral lain.
Dalam membahas sifat-sifat Allah, Calvin menulis “agar kita tetap bijaksana, Allah berbicara sedikit saja tentang hakikat-Nya”. Oleh sebab itu, tanpa meniadakan satu segi pun dari penyingkapan diri Allah sebaiknya kita jangan menggambarkan dan membedakan terlalu rinci. Perlu pula mengingat bahwa sifat-sifat itu ada pada Allah sebagai kesatuan yang tak terpisahkan.
Kemuliaan Allah
Istilah ”kemuliaan” sering ditemukan dalam Alkitab dan biasanya berarti manifestasi keberadaan Allah. Kemuliaan-Nya mengungkapkan inti keberadaan-Nya sebagai Allah, kemegahan ilahi-Nya, dan keilahian-Nya yang murni. Istilah senada ”kemahatinggian” menunjukkan sifat Allah yang melampaui realitas yang terbatas.
Dalam Alkitab, sifat ini dinyatakan pada saat Allah memperlihatkan diri di Gunung Sinai (Kel 19:1-24:18): ”Tampaknya kemuliaan Tuhan sebagai api yang menghanguskan di puncak gunung itu” (Kel 24:17; bnd. Kel 19:16-22). Yehezkiel menerima wahyu yang menakjubkan tentang Allah di tepi Sungai Kebar (Yeh 1:1-28). Juga agak mirip dengan gambaran Yesus yang dimuliakan: ”mataNya bagaikan nyala api … wajahNya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik” (Why 1:14-16). Paulus bersaksi telah melihat ”kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus” (2Kor 4:6; bnd. Yoh 1:14) dalam penampakan diri Kristus yang menyilaukan di jalan menuju Damsyik. Kemuliaan ilahi hanya dapat kelihatan kalau orang bersembah sujud di hadapan-Nya dengan rasa khidmat dan memuja.
Sifat ini juga meliputi berbagai segi lain. Kemuliaan Allah menunjukkan:
• ketakterbatasan Allah, yang ”bersemayam dalam terang yang tak terhampiri” (1Tim 6:16), yang ”tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan-jalanNya!” (Rom 11:33);
• keberadaan diri Allah yang tidak tergantung pada apa pun yang lain (Kej 1:1), yang ”tidak dilayani … seolah-olah Ia kekurangan apa-apa” (Kis 17:25, bnd. Yes 40:13); dan
• kemantapan Allah yang selalu konsisten, yang tidak berubah (Mal 3:6; Yak 1:17; bnd. Ibr 13:8), suatu sifat yang diungkapkan dalam kesetiaan dan keterandalan dalam hubungan Allah dengan umat-Nya dan menjadi dasar perjanjian.

Ketuhanan Allah
Nama Allah yang paling sering dipakai dalam Perjanjian Lama ialah Yhwh, yang dihubungkan khususnya dengan perjanjian antara Allah dan bangsa Israel. Yhwh adalah sebutan Allah bagi diri-Nya ketika Musa menanyakan nama-Nya (Kel 3:13-15), yang diartikan ”AKU ADALAH AKU”. Sebutan itu dapat juga berarti ”Aku akan ada yang Aku akan ada” dan merupakan janji Allah untuk memenuhi rencana-Nya untuk membebaskan Israel dari Mesir dan menempatkan mereka di negeri perjanjian. Nama itu menunjuk pada kesetiaan Allah kepada bangsa-Nya dan kepastian janji-Nya.
Keyakinan yang sama diperlihatkan dengan menunjuk pada kedaulatan Allah. Ia memerintah dunia dan kehendak-Nya merupakan penyebab akhir dari segala sesuatu, termasuk penciptaan dan pemeliharaan (Mzm 95:6; Why 4:11), pemerintahan manusiawi (Ams 21:1; Dan 4:35), penyelamatan umat Allah (Rom 8:29; Ef 1:4,11), penderitaan Kristus (Luk 22:42; Kis 2:23), penderitaan orang Kristen (Fil 1:29; 1Pet 3:17), hidup dan masa depan manusia (Kis 18:21; Rom 15:32), bahkan soal-soal paling kecil dalam kehidupan (Mat 10:29). Allah memerintah di alam semesta-Nya, ditinggikan di atas semua penuntut kekuasaan dan kewenangan. Hanya Dia yang adalah Allah: ”Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain” (Yes 45:6, bnd. Yes 43:11; 44:8; 45:21).
Ketuhanan Allah diungkapkan dalam tiga sifat yang terkait, yakni kemahakuasaan, kemahahadiran dan kemahatahuan.
Kemahakuasaan Allah (Omnipotent)
Allah adalah Yang Mahakuasa (Kej 17:1). Hal ini jelas sekali dalam pertanyaan: ”Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk Tuhan?”, yang ditanyakan setelah Allah menjanjikan seorang anak laki-laki kepada Abraham dan Sara dalam usia mereka yang sudah lanjut (Kej 18:14) dan diulangi lagi ketika Yerusalem akan dihancurkan oleh tentara Babel dan Allah menjanjikan akan memulihkan dan membebaskan Yerusalem (Yer 32:27). Dalam kedua kasus itu janji Allah ditepati persis.
Ada bukti serupa dalam Perjanjian Baru. Allah menyatakan diri sebagai Dia yang bagi-Nya ”tidak ada yang mustahil”, antara lain kelahiran Yesus dari anak dara (Luk 1:37) dan kelahiran kembali manusia yang jatuh dalam dosa (Mr 10:27).
Inilah inti ketuhanan Allah yang menuntut sikap kepercayaan penuh di tengah-tengah ”kemustahilan” sejarah manusia dan situasi pribadi. Allah adalah Tuhan: ”Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk Tuhan?”.
Kemahahadiran Allah (Omnipresent)
Dia hadir di seluruh alam semesta (Mzm 139:7-12). Terpikir akan kehadiran Allah yang menggelisahkan, pemazmur sadar bahwa ia tidak mungkin luput dari Allah baik di ruang, waktu maupun kekekalan. Perzinahan Daud dengan Batsyeba serta kematian suaminya dapat didiamkan di istana Yerusalem, tetapi sudah disaksikan oleh Allah yang sewaktu-waktu dapat membongkarnya (2Sam 12:11). Dalam Alkitab, diceritakan tentang beberapa pembongkaran hal seperti itu oleh Allah (Kej 3:11; Yos 7:10-26; 2Raj 5:26; Kis 5:1-11).
Kemahahadiran Allah dapat juga memberikan rasa aman. Kalau kejahatan merajalela dan ketidakadilan serta kekuasaan mutlak tidak ditentang, Allah mengetahui dan melihat semuanya (Mzm 66:12; Yes 43:2; Kis 23:11). Ia tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan (Gal 6:7) dan Dia telah menetapkan hari untuk menghakimi dunia (Kis 17:31). Begitu pula pada saat-saat pencobaan pribadi atau penderitaan karena iman, kita dapat berkata:
” Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbatMu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?” (Mzm 56:9; bnd. Why 6:9; 18:24).
Sifat lain yang berhubungan dengan kemahahadiran adalah kekekalan Allah. Kemahahadiran di ruang angkasa ada jajarannya dalam waktu. ”Dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah” (Mzm 90:2). Tidak ada saat sebelum Dia atau sesudah Dia.

Kemahatahuan Allah (Omniscience)
Sifat Allah yang ketiga ini erat hubungannya dengan kemahahadiran-Nya (Mzm 139:1-12). Sebab itu dampak praktisnya sama, yaitu menggelisahkan tetapi juga menenteramkan: Allah melihat dan mengetahui segala sesuatu. Ini berhubungan secara khusus dengan tema penghakiman dan diungkapkan secara kiasan sebagai ”dibuka semua kitab” (Why 20:12). Masa lampau tidak hilang untuk selama-selamanya; seluruh waktu adalah masa kini bagi Allah. Pada penghakiman terakhir akan diperiksa bukti yang jauh melebihi bukti-bukti yang dipikirkan oleh hakim duniawi. Seluruh kehidupan terdakwa, semua perbuatannya dan motivasinya yang hampir tak disadari serta sikapnya akan diketahui seperti pemutaran kembali film. Penghakiman terakhir oleh Allah itu betul-betul adil. Ini menempatkan misteri-misteri kehidupan perorangan, yaitu kejadian-kejadian yang kelihatan tiada arti, pada perspektif yang sebenarnya: karena Allah mengetahui semuanya, maka misteri-misteri ini juga dimengerti-Nya dan dikendalikan oleh kehendak-Nya. Bagi Allah ada misteri tetapi tidak pernah ada kesalahan.
Sifat ini merupakan dasar gagasan bahwa penyataan diri Allah adalah lengkap. Seandainya Allah hanya mengetahui sebagian, kebenaran-Nya bersifat sementara saja. Kemahatahuan Allah berarti kita tidak menunggu penyataan lagi yang dapat menggantikan penyingkapan diri-Nya dalam Yesus Kristus. Sebagai Anak Allah yang kekal, Yesus adalah penyataan yang terakhir, kebenaran yang di dalamnya tersembunyi segala hikmat dan pengetahuan (Yoh 14:6; Kol 2:3). Kemahatahuan Allah juga merupakan dasar pekerjaan Roh Kudus yang menyingkapkan pikiran dan kebenaran Allah dalam Alkitab dan dengan demikian menjamin keter-andalan dan finalitasnya (Yoh 16:13; 17:17).

Kekudusan Allah
Ada orang yang merasa kesulitan dalam menghubungkan Allah sebagai pemberi hukum yang kudus, dengan Allah yang penuh kasih dalam Injil. Sebagian orang mencoba mengatasi kesulitan ini dengan terlalu menitik-beratkan kekudusan Allah. Allah digambarkan secara keras dan kaku, yang memaksakan orang tanpa henti-hentinya untuk bergumul secara moral karena ancaman penghakiman kelak. Yang lain terlalu menitik-beratkan kasih Allah dan mengubah-Nya menjadi tokoh yang pemurah dan sentimental, yang tidak ada keteguhan moral. Sedangkan Allah dalam Alkitab adalah kudus dan juga pengasih, dan kedua sifat itu terikat dalam kesatuan yang tak terpisahkan dalam masing-masing oknum Allah.
Kekudusan Allah adalah inti keberadaan-Nya dan terutama menonjol dalam Perjanjian Lama (Im 11:44; 19:2; Yos 24:19; 1Sam 6:20; Mazm 22:4; Yes 57:15). Dalam Perjanjian Baru, sifat itu nampaknya tidak dititik-beratkan, tetapi harus diingat bahwa Perjanjian Baru menekankan kepribadian dan pekerjaan Roh yang Kudus. Unsur dasar dalam arti kata Ibrani qodesy (’kudus’) mungkin sekali ”pemisahan”, dengan pengertian positif bahwa sesuatu dipisahkan supaya menjadi milik Allah. Kalau konsep ini dipakai tentang Allah sendiri, ada dua dampak.
Pertama, Allah terlepas dari oknum-oknum lain; hanya Dialah Allah. Menurut pengertian ini, kekudusan Allah mirip dengan kemuliaan-Nya. Hal ini diungkapkan dalam penglihatan Yesaya: ”Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaanNya” (Yes 6:3). Dan itu digemakan dalam penglihatan Yohanes seribu tahun kemudian:
”Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang” (Why 4:8; bnd. 1Tim 6:16). Kekudusan ilahi ini juga diterapkan pada sang Anak (Mr 9:2; Luk 1:35; Kis 9:3; Wahy 1:12) dan Roh Kudus (Luk 1:13; Kis 2:4; 4:31*; Ef 4:30; Ibr 9:8).
Kedua, yang dimaksudkan dengan kekudusan Allah dalam pengertian etis adalah pemisahan diri-Nya dari segala sesuatu yang menentang dan melawan Dia. Inilah dasar semua perbedaan moral. Yang baik adalah yang dikehendaki Allah; yang jahat adalah yang menentang dan melawan kehendak-Nya, dan oleh sebab itu hakikat-Nya juga.
Kekudusan Allah berarti bahwa Ia betul-betul murni dan sempurna, tanpa dosa atau kejahatan; keberadaan-Nyalah yang merupakan penyemarakan dan luapan kemurnian, kebenaran, kebajikan, keadilan, kebaikan serta kesempurnaan moral apa pun. Tantangan etis yang diakibatkan oleh kekudusan itu cukup jelas dalam Alkitab. Dalam Kitab Yesaya, Allah sering disebut “Yang Mahakudus, Allah Israel” (Yes 5:19; Yes 30:12; 43:3; Yes 55:5) yang menghendaki agar Israel mengubah sikapnya dan mengikuti tabiat Allah yang diam di tengah-tengah mereka (Yes 12:6). Dalam Perjanjian Baru, Roh Kudus mendiami batin orang Kristen dengan dampak etis yang jelas: orang Kristen harus ”menjauhkan diri dari percabulan” dan “hidup di dalam pengudusan” (1Kor 6:18; 1Tes 4:3,7).
Kegagalan orang dalam mendasarkan kekudusan Allah pada hakikat-Nya menyebabkan kekhilafan mereka yang memisahkan kekudusan dari kasih-Nya. Jika kekudusan adalah kehendak Allah, maka perbuatan kasih dan pengampunan-Nya harus juga merupakan perbuatan kudus.
Ada tiga istilah terkait yang perlu dicatat.
(1) Keadilan atau kebenaran Allah berarti kesesuaian-Nya yang kudus dengan diri-Nya, dan juga tindakan kehendak-Nya yang kudus: ”adil dan benar Dia” (Ul 32:4). Dalam Perjanjian Lama, sifat ini kelihatan dalam hubungan-Nya dengan penciptaan-Nya (Mazm 145:17) dan dengan bangsa-Nya (Mazm 31:2; Yer 11:20).
Keadilan ini meliputi membebaskan dan membenarkan bangsa-Nya (Yer 23:6), dengan begitu Ia dapat digambarkan sebagai “Allah yang adil dan Juruselamat” (Yes 45:21). Kekurangan keadilan dan kebenaran menempatkan manusia dalam kedudukan moral yang pelik di hadapan Allah: penyediaan kebenaran oleh Allah sendiri melalui Kristus menjadi inti Injil anugerah-Nya (Rom 1:17; 3:21; Rom 5:17-21).
Beberapa teolog membedakan antara keadilan Allah dalam pemerintahan-Nya atas dunia pada umumnya dan keadilan-Nya yang membagi-bagikan ganjaran dan hukuman. Sifat ini berhubungan dengan kasih dan anugerah Allah, karena keadilan-Nya kadang-kadang membenarkan orang miskin dan orang yang bertobat (Mzm 76:10; 146:7; 1Yoh 1:9).
(2) Murka Allah timbul dari kemantapan diri Allah yang kekal. Watak-Nya yang dinyatakan adalah pengungkapan hakikat-Nya yang tak dapat berubah. Segala sesuatu yang menentang Dia dilawan secara menyeluruh dan final. Murka Allah adalah reaksi Allah yang kudus melawan apa yang berlawanan dengan kekudusan-Nya. Murka Allah itu bersifat pribadi, yakni merupakan sifat dari Pribadi yang menjadi patokan semua kepribadian. Tanpa sifat ini, Allah tidak lagi benar-benar kudus dan kasih-Nya merosot menjadi sentimentalitas. Murka-Nya tidak sewenang-wenang, tersendat-sendat atau emosional seperti kemarahan manusia. Murka Allah dinyatakan dalam sejarah bila manusia memetik hasil moral dan spiritual dari penolakannya terhadap penyataan ilahi (Rom 1:18-19), tetapi ini baru bentuk pendahuluan dari murka yang akan dinyatakan pada akhir zaman, yang kelihatan jelas dalam salib Kristus (Mzm 78:31; Hos 5:10; Yoh 3:36; Ef 2:3; 1Tes 1:10; Why 6:16*).
(3) Kebaikan Allah dapat digolongkan di bawah kekudusan maupun kasih dan oleh sebab itu menggarisbawahi kenyataan bahwa tidak mungkin memisahkan kedua sifat tersebut (Kel 33:19; 1Raj 8:66*; Mzm 34:9; Rom 2:4).

Kasih Allah
“Allah kasih adanya” (1Yoh 4:8) adalah definisi Alkitab yang paling dikenal tentang Allah. Namun di antara manusia, kasih meliputi beraneka ragam sikap dan tindakan. Digunakan untuk Allah, kasih itu mengandung gagasan yang khas. ”Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus AnakNya yang tunggal ke dalam dunia … sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1Yoh 4:9).
Kata Yunani yang dipakai dalam Alkitab untuk menyebut kasih Allah (_agape_) tidak banyak dipakai di luar Perjanjian Baru. Ada kata Yunani yang lebih sering dipakai secara umum, yakni eros, yang menyebut cinta-kasih yang berhubungan dengan objek yang layak. Sedangkan agape adalah kasih kepada objek yang tidak layak, yaitu orang yang tidak berhak atas kesetiaan kekasihnya. Dalam Perjanjian Lama, ada kesaksian tentang hal ini berhubung dengan kasih Allah kepada Israel (Ul 7:7) dan kasih Hosea kepada istrinya yang tidak setia (Hos 3:1).
Ini seolah-olah menghadirkan lagi pemisahan antara kekudusan dan kasih Allah. Bagaimana Allah yang bertindak bebas dalam kasih dapat disamakan dengan Allah yang kudus, yang mempedulikan kemuliaan-Nya? Akan tetapi, harus diingat bahwa kekudusan Allah adalah dasar dan sumber segala sesuatu yang baik; dengan begitu kita dapat melihatnya sebagai landasan kasih-Nya. Di samping itu, hanya Dia yang adalah Allah sepenuhnya dapat dengan bebas merendahkan diri sepenuhnya dan mengasihi yang lain dengan kasih agape, didasarkan pada saling mengasihi yang kekal di antara ketiga Oknum dalam Tritunggal.
Kekudusan dan kasih bergabung dengan sempurna dalam diri Yesus Kristus dan pekerjaan-Nya. Sebagai Anak Allah, Ia mewujudnyatakan kekudusan ilahi yang terlepas dari dosa dan kejahatan apa pun, namun justru kedatangan-Nya merupakan jawaban kasih Allah yang penuh kemurahan terhadap kesalahan manusia dan keadaannya yang tak berdaya. Kedua sifat itu juga bersatu dalam pelayanan Roh Kudus, yang membaharui dan menguduskan umat Allah sebagai penggenapan rencana kasih Allah.
Sebab itu, kasih Allah selalu erat hubungannya dengan anugerah, seperti Allahmembungkuk untuk memeluk mereka yang tidak layak. Kasih-Nya adalah keputusan-Nya yang bebas dan tak dipaksa untuk menyelamatkan orang berdosa dalam Yesus Kristus dan memperbarui serta menguduskan mereka dalam Roh Kudus. Karena itu kasih Allah ini sungguh-sungguh merupakan mujizat.
Tiga aspek tambahan perlu dicatat. Pertama, kasih (_agape_) Allah diungkapkan terutama dalam pembebasan orang-orang berdosa serta segala yang berhubungan dengan hal itu. Tetapi kasih ini juga dinyatakan dalam kepedulian-Nya terhadap ciptaan-Nya. Ini sering disebut sebagai kebaikan atau kemurahan yang juga kelihatan dalam alam (Kis 14:17). Kedua, rahmat Allah adalah kasih-Nya pada saat menghadapi dosa manusia. Dalam rahmat-Nya, Ia mengampuni pelanggaran-pelanggaran manusia. Rahmat Allah selalu mahal harganya karena menyangkut penerimaan konsekuensi dosa manusia di kayu salib oleh Allah (Ef 2:4; Tit 3:5). Ketiga, perjanjian adalah gagasan penting dalam Alkitab dan banyak ajaran tentang kasih Allah berkisar pada hal itu. Perjanjian mengacu pada kasih Allah ketika Ia mengadakan hubungan dengan manusia. Perjanjian pokok dalam Perjanjian Lama diadakan dengan Abraham dan mencapai puncak perkembangan dengan perjanjian baru dalam Kristus. Dengan perjanjian ini, Allah secara bebas mengikat diri-Nya untuk membebaskan umat-Nya dan tetap menjadi Allah mereka. Kata-kata Ibrani untuk anugerah (_khen, khesed_) dipakai berhubungan dengan perjanjian dengan arti kasih setia, atau kasih yang tabah.
Aspek kasih yang ketiga ini adalah jaminan yang paling mendasar bagi orang Kristen: ”jika kita tidak setia, Dia tetap setia” (2Tim 2:13). Kedudukan orang Kristen di hadapan Allah tidak tergantung dari pegangannya pada Kristus dan akhirnya juga tidak ditentukan oleh ketidakpatuhan atau kekurangan dalam responsnya terhadap Injil. Allah mengasihi kita dan dalam kenyataan inilah terletak jaminan serta damai sejahtera akhirnya.
Inilah Allah yang dinyatakan dalam Alkitab:
Yang Mahamulia, dalam kemegahan yang tak terhampiri;
Yang Mahatinggi, Tuhan atas segala sesuatu, yang memakai segala sesuatu untuk pemenuhan rencana-Nya;
Yang Mahakudus, yang agung dan lepas dari dosa dan kejahatan;
Yang Mahakasih, yang kekal, murah hati dan suka menebus.

Allah Tritunggal
Bagaimana rupa Allah? Jawaban umum sementara adalah “Allah itu Roh berpribadi yang hidup”. Allah yang dinyatakan dalam Alkitab sungguh-sungguh hidup dan bertindak (Mzm. 97:7; 115:3). Ia bukan kuasa atau kekuatan tak berpribadi, tetapi Allah berpribadi dan berwatak dengan kodrat khusus. Dia adalah Roh yang melebihi seluruh tatanan dunia, walaupun tatanan itu bergantung pada-Nya.
Ajaran Alkitab
Alkitab berbicara tentang Allah sebagai tiga oknum yang dapat dibedakan, yang biasa disebut sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus. Istilah teknis untuk gagasan ini, Tritunggal, tidak terdapat dalam Alkitab, tetapi termasuk golongan istilah yang bersifat alkitabiah dalam arti mengungkapkan dengan jelas ajaran Alkitab.
a. Perjanjian Lama
Bagi bangsa Israel, keesaan Allah merupakan aksioma (suatu pernyataan yang bisa dilihat kebenarannya tanpa perlu adanya bukti): ”Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa” (Ul 6:4). Penekanan pada keesaan ilahi ini sangat penting, mengingat politeisme yang memuja berhala dan bersifat dekaden dari bangsa-bangsa di sekeliling Israel. Namun Perjanjian Lama juga mengandung isyarat tentang “kepenuhan” dalam Allah yang merupakan landasan ajaran Perjanjian Baru tentang Tritunggal.
Acapkali Allah memakai istilah jamak untuk diri-Nya sendiri (Kej. 1:26; 3:22; 11:7; Yes. 6:8) dan penulis Injil Yohanes memperlakukan perikop Yesaya itu sebagai penglihatan Yesus (Yoh 12:41). Ada sebutan mengenai ”malaikat Tuhan” yang disamakan dengan Allah tetapi berbeda dengan-Nya (Kel. 3:2-6; Hak. 13:2-22). Perjanjian Lama juga menyebutkan Roh Allah sebagai wakil pribadi Allah (Kej. 1:2; Neh. 9:20; Mzm. 139:7; Yes 63:10- 14). Ada juga disebutkan tentang hikmat Allah, khususnya dalam Amsal 8:1-36, sebagai perwujudan Allah di dunia, dan mengenai firman Allah sebagai ungkapan yang kreatif (Mzm. 33:6,9; bnd. Kej 1:26). Ada juga nubuat yang menyamakan Mesias yang sudah lama ditunggu-tunggu itu dengan Allah (Mzm. 2:1-12; Yes. 9:5-6).
Jelaslah bahwa Perjanjian Lama tidak mengajarkan mengenai Tritunggal secara lengkap, tetapi dengan menyajikan keesaan Allah dalam bentuk jamak, perikop-perikop tadi mendahului ajaran Perjanjian Baru yang lebih lengkap.
b. Perjanjian Baru
Ajaran tersirat dalam Perjanjian Lama muncul ke permukaan dalam Perjanjian Baru. Pertama, para rasul semakin tergerak untuk menyembah Yesus sebagai Tuhan, berdasarkan pengaruh dampak kehidupan dan watak-Nya, tuntutan dan mujizat-mujizat, dan terutama kebangkitan serta kenaikan-Nya. Kedua, realitas dan kegiatan Roh Kudus di antara mereka jelas merupakan kehadiran Allah sendiri. Sebab itu, acuan yang Yesus berikan kepada mereka (Mat. 28:19) menentukan pemahaman mereka. Allah adalah esa, namun dapat dibedakan dalam tiga oknum: Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Berbagai perikop mengandaikan atau menyatakan ketritunggalan Allah, secara langsung atau tidak langsung (Mat. 3:13-17; 28:19; Yoh. 14:15-23; Kis. 2:23; 2Kor. 13:14; Ef. 1:1-14; 3:16-19). Masing-masing oknum ditegaskan bersifat ilahi:
• Sang Bapa adalah Allah (Mat. 6:8-9; 7:21; Gal 1:1);
• Sang Anak adalah Allah (Yoh. 1:1-18; Rom. 9:5; Kol. 2:9; Tit. 2:13; Ibr. 1:8-10); dan
• Roh Kudus adalah Allah (Mrk. 3:29; Yoh. 15:26; 1Kor. 6:19-20; 2Kor. 3:17-20.
Dengan demikian Alkitab menyajikan realitas yang misterius dan unik: satu Allah, sang Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Satu cara untuk memahami perbedaan antara sang Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah dengan menghubungkan fungsi yang berbeda dengan masing-masing oknum itu.
Bentuk paling populer menghubungkan penciptaan dengan sang Bapa, penyelamatan dengan Anak dan pengudusan dengan Roh Kudus.
Paulus memberikan bentuk lain dalam Efesus 1:1-23, di mana pemilihan dihubungkan dengan sang Bapa (Ef. 1:4,5,11), penyelamatan dengan Anak (Ef. 1:3,7,8) dan pemeteraian dengan Roh Kudus (Ef. 1:13-14).
Kita bukan berpikir tiga atau satu, tetapi tiga dan satu. Tiga dan satu berarti tiga Pribadi Allah yang masing-masing pribadi yang berbeda dengan kehendak, pikiran, dan emosi/perasaan yang berbeda, tetapi ketiga pribadi ini bukan berarti tiga Allah, tetapi satu esensi Allah.
Di dalam Allah Tritunggal ini, juga terdapat hubungan yang setara dan bertingkat antara masing-masing Pribadi. Meskipun ketiga Pribadi Allah ini adalah Allah (setara), tetapi ketiga-Nya tetap bertingkat. Artinya, hanya Allah Bapa yang dapat mengutus Allah Anak (bukan sebaliknya), dan Allah Bapa dan Allah Anak mengutus Allah Roh Kudus (bukan sebaliknya). Membalik posisi ini berarti melawan Alkitab.
Ajaran setara dan bertingkat ini juga berimplikasi penting di dalam kehidupan kita sehari-hari di mana kita harus memiliki paradigma memandang semua orang adalah ciptaan Allah, tetapi di sisi lain tetap memposisikan mereka sesuai posisinya masing-masing (artinya: meskipun majikan dan bawahan sama-sama ciptaan Allah, majikan tetap adalah majikan, bawahan tetap adalah bawahan, dan tentunya bawahan bukan memerintah majikan, tetapi majikan yang memerintah bawahan).
Ayat-ayat mengenai Allah Tritunggal
Kita bisa menyelidiki Alkitab untuk membuktikan doktrin Allah Tritunggal, adanya 3 pribadi Allah dan perbedaan pekerjaan-pekerjaan Mereka. Ayat-ayat dalam Alkitab yang mewahyukan doktrin Allah Tritunggal antara lain:
1. Allah Tritunggal dalam satu ayat: terdiri dari 3 Pribadi yang berbeda
Matius 3:16 Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, 3:17 lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
Matius 28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
Yohanes 14:16 Aku (Yesus) akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.

2. Allah itu Esa
Markus 12:29 Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.
I Korintus 8:6 namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.
I Timotius 2:5 Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,

3. Yesus & Bapa adalah ESA
Yohanes 14:9 Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.
Yohanes 10:30 Aku dan Bapa adalah satu.
Yohanes 17:22 Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.
4. Bapa adalah Allah
Matius 5:48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”
Matius 6:9 Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,
I Korintus 15:24 Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan.

5. Bapa tidak sama dengan Yesus
Matius 7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
Matius 10:40 Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.
Matius 11:27 Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.
Matius 24:36 Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri.”
Lukas 10:16 Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.”
Yohanes 1:18 Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.
Yohanes 5:23 supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia.
Yohanes 5:26 Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri.
Yohanes 7:29 Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku.”
Yohanes 8:16 dan jikalau Aku menghakimi, maka penghakiman-Ku itu benar, sebab Aku tidak seorang diri, tetapi Aku bersama dengan Dia yang mengutus Aku.
Yohanes 8:18 Akulah yang bersaksi tentang diri-Ku sendiri, dan juga Bapa, yang mengutus Aku, bersaksi tentang Aku.”
Yohanes 8:42 Kata Yesus kepada mereka: “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.
Kisah Para Rasul 7:56 Lalu katanya: “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.”
6. Bapa tidak sama dengan Allah Roh Kudus
Yohanes 14:26 tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.
7. Yesus adalah Allah
Yohanes 8:58 Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.”
Matius 9:6 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” — lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –: “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!”
Matius 12:8 Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.
Matius 25:31 “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.
Yohanes 3:13 Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.
Yohanes
5:17 Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.”
5:18 Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah.
Yohanes 10:33 Jawab orang-orang Yahudi itu: “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah.”
Yohanes 6:37 Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.
Yohanes 6:40 Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.”
8. Roh Kudus adalah Allah
Matius 12:32 Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak.
I Korintus 2:11 Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah.
I Korintus 3:16 Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?
II Korintus 3:17 Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.
9. Roh Kudus tidak sama dengan Bapa & Yesus
I Korintus 12:3 Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorang pun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorang pun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus.
Yohanes 7:39 Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan.
Yohanes 14:16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,
Yohanes 14:26 tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.
Yohanes 15:26 Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.
Yohanes 16:7 Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.
I Korintus 2:10 Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.
Empat Persoalan
Kiranya cukuplah membahas secara singkat empat persoalan penting.
a. Keterbatasan bahasa
Kehidupan Allah sebagai Tritunggal jelas tidak ada padanannya dalam pengalaman manusia. Kita berbicara tentang misteri ini hanya karena Allah sendiri telah berbicara tentang hal ini dalam Alkitab. Sudah tentu timbul kesulitan dalam mengungkapkannya dengan bahasa yang dapat dimengerti. Augustinus, misalnya, dalam membahas kelayakan memakai istilah “oknum” berhubungan dengan Tritunggal, mengatakan,
”Ketika ditanyakan tiga apa?, bahasa manusia sangat terbatas karena miskin dalam perbendaharaan kata. Namun dikatakan ‘tiga oknum’, bukan untuk menjelaskan sejelas-jelasnya, tetapi untuk mengatakan sesuatu yang menyampaikan arti sekalipun terbatas”.
Hal yang serupa dikemukakannya tentang angka tiga berkaitan dengan keberadaan Allah: ”Dalam ketritunggalan ini dua atau tiga oknum tidak lebih besar daripada salah satu oknum.”
b. Cara memakai kata ”Allah”
Para penulis Kristen memakai kata ”Allah” dengan dua cara: kadang-kadang mereka maksudkan sang Bapa khususnya dan kadang-kadang Allah dalam ketritunggalan-Nya. Jika dianggap bahwa yang dimaksudkan dengan “Allah” hanya sang Bapa, maka perendahan Anak dan Roh Kudus di bawah sang Bapa tak terelakkan. Banyak sekte tidak menyadari perbedaan yang sangat penting itu, dan oleh karena itu terjadi kesulitan dengan ajaran Alkitab mengenai keilahian penuh dari Anak dan Roh Kudus. Saksi-saksi Yehowa, misalnya, tidak mengerti bahwa dalam Perjanjian Lama, Allah (_Yhwh_, yang mereka sebut ”Yehowa”) berarti Allah yang Tritunggal (bnd. ps 16 di bawah tentang keilahian Kristus). Sang Bapa tidak dibedakan dengan Anak dan Roh Kudus karena Dia adalah Allah. Keilahian sama-sama dimiliki oleh ketiga Oknum; berdasarkan ini Allah adalah esa tetapi juga tritunggal.
c. Tiga apa?
Bagaimana manusia dapat mengacu pada ketritunggalan dalam diri Allah tanpa membahayakan keesaan-Nya? Di Indonesia, masyarakat Kristen telah memakai istilah ”oknum” sebagai padanan istilah klasik Yunani _hupostasis _dan Latin persona. Pada zaman ini, istilah itu hampir tidak dipakai lagi kecuali dalam konteks teologi Kristen, sehingga dapat dikatakan tidak lagi mempunyai arti bagi orang biasa. Istilah ”pribadi” yang acapkali dipakai cenderung memberi kesan bahwa ada tiga kepribadian dalam Allah, masing-masing dengan ciri-ciri kekhususan secara tersendiri, dan karena itu membahayakan keesaan Allah. Istilah ”cara berada” pernah dipakai, tetapi sekali lagi memberi kesan bahwa keberadaan Bapa berbeda dengan keberadaan Anak, dan seterusnya. Tetapi karena masih belum ada istilah yang dapat diterima secara umum sebagai alternatifnya, maka istilah tradisional ”oknum” tetap dipertahankan sekalipun tidak seratus persen memadai.
d. Adakah analogi Tritunggal dalam pengalaman manusia?
Kesulitan memahami Allah sebagai “tiga dalam satu” telah mendorong para pemikir Kristen berabad-abad untuk mencari analogi-analogi Tritunggal yang dapat mencerahkan pemahaman. Di bawah pengaruh pandangan modern tertentu tentang kepribadian, maka sejumlah teolog telah menghidupkan kembali analogi purba tentang kelompok tiga orang. Sama seperti kepribadian orang dapat bergabung dan menyatu dengan kepribadian-kepribadian lain, begitu pula Oknum-oknum dalam Allah menyusup satu dengan yang lain dan mengungkapkan diri dalam kesatuan ilahi. Mungkin ada ayat-ayat Alkitab yang mendukung pandangan ini, khususnya yang berbicara tentang perkawinan. Yesus mengatakan bahwa dalam perkawinan “mereka bukan lagi dua, melainkan satu” (Mat. 19:15). Analogi ini yang disebut ”analogi sosial” memberikan penjelasan yang berharga tentang pluralitas oknum-oknum dalam Allah, tetapi juga dapat membahayakan keesaan ilahi.

download