Darah

Darah
Darah ditentukan dan disediakan Allah dalam kitab suci, sebab itu: (1) mengandung kuasa untuk mengadakan korban penenbusan, dan (2) menjadi laknat bagi orang itu yang menumpahkannya dengan tidak senonoh (Kej 9:4; Ima 7:26; 17:11-13).

Pembalasan terhadap seorang pembunuh ialah menuntut darahnya (Bil 35:27; Ul 24:16). Seorang yang menumpahkan darah dengan tak disengaja boleh melarikan diri ke salah satu kota perlindungan yang telah tersedia (Bil 35:22-23; Ul 19:4-6).

“Darah” di dalam PL dianggap (seperti dalam semua agama purba) sebagai tempat adanya hidup (Kej 9:5; Im 17:11 dan lain-lain). Oleh karena hidup adalah milik Allah, maka penggunaan darah dilarang keras (1Sam 14:31-34; Kej 9:3-4; mengenai tata-hukumnya lihat Im 3:17; Ul 12:23 dan lain-lain). Dari sudut lain dikenal adanya berbagai ritus di Israel. Pada saat memerciki altar, “Darah”. dinyatakan sebagai milik Yahwe. Darah dipakai untuk mengadakan perdamaian (Ibr 9:22) dan mengukuhkan ikatan perjanjian antara Yahwe dengan umatNya (Kel 24:3-8). Kedua pihak menjadi semacam kerabat sedarah (anggota keluarga). Adapun “darah” yang dicurahkan itu berteriak kepada Tuhan untuk menuntut balas (Kej 4:10: –> Pembalasan Darah).
“Darah” di dalam PB. Ungkapan PL “Daging dan Darah” menunjukkan hakiki manusiawi dalam kelemahan dan kedosaannya (Mat 16:17; 1Kor 15:50; Gal 1:16 dan lain-lain). Salah satu theologumenon PB yang paling utama adalah “Darah” Kristus yang telah dicurahkan (Ef 2:13; Ibr 9:14 dan lain-lain). Seperti dulu PL dikukuhkan dengan Darah binatang kurban, demikian pula kini PB dikukuhkan dengan Darah Kristus (Mark 14:24 dsj; 1Kor 11:25).
“Darah” merupakan beaya yang dipakai Kristus untuk membebaskan orang dari dosa-dosa (Ef 1:7), beaya untuk mendamaikannya dengan Tuhan (Rom 3:25), menguduskannya (Ibr 13:12) dan membenarkannya (Rom 5:9).
Persekutuan dalam Darah Kristus (Yoh 6:54-56; 1Kor 10:16) adalah suatu ungkapan tentang hubungan orang dengan Kristus yang akrab sekali (Perjamuan malam). Di situlah pandangan PL tentang persaudaraan oleh Darah antara Allah dengan manusia menemukan kenyataannya yang terakhir.

Arti Darah
1. Nyawa (kehidupan) binatang (Kej 9:4; Im 17:11,14)
2. Cair (Ul 12:16)
3. Merah (2Raj 3:22; Yoel 2:31)
4. Sama saja di dalam tubuh semua manusia (Kis 17:26)
5. Dilarang dimakan oleh:
1.Manusia setelah air bah pada zaman Nuh (Kej 9:4)
2.Orang Israel yang tunduk kepada Taurat Allah (Im 3:17; 17:10,12)
3.Orang Kristen pada zaman dahulu (Kis 15:20,29)
6. Orang Yahudi seringkali bersalah karena makan darah
(1Sam14:32,33; Yeh 33:25).
7. Binatang yang disembelih harus ditutup dengan tanah
(Im 17:13; Ul 12:16,24)
8. Burung-burung buas suka darah (Ayub 39:33).
9. Binatang-binatang buas suka darah ( Bil 23:24; Mazm 68:24)
10. Penumpahan – manusia:
1.Dilarang. Kej 9:5
2.Dibenci Tuhan. Ams 6:16,17
3.Mencemarkan tanah. Mazm 106:38
4.Mencemarkan orang. Yes 59:3
5.Sering kali dilakukan oleh orang Yahudi. Yer 22:17; Yeh 22:4
6.Selalu dihukum. Kej 9:6
11. Cara mengadakan pendamaian terhadap orang yang bersalah
karena menumpahkan – (Ul 21:1-9)
12. Korban persembahan menurut Taurat:
1.Untuk pendamaian (penebusan). Kel 30:10; Im 17:11
2.Untuk penyucian. Ibr 9:13,19-22
3.Bagaimana dicurahkan. Kel 29:12; Im 4:7
4.Tidak dipersembahkan dengan ragi. Kel 23:18; 34:25
5.Tidak dapat menghapuskan dosa. Ibr 10:4
13. Penyembah berhala mengadakan persembahan minuman darah
(Mazm 16:4)
14. Air yang berubah menjadi darah sebagai tanda (Kel 4:9,30)
15. Air di negeri Mesir berubah menjadi darah sebagai hukuman
(Kel 7:17-21)
16. Melukiskan:
1.(Membasuh kaki dalam – ) kemenangan-kemenangan.
Mazm 58:11; 68:24
2.(Darah sebagai dasar bangunan) penganiayaan dan kekejaman.
Hab 2:12
3.(9Mencurahkan) suatu hukuman. Yeh 35:6
4.(Atas diri sendiri) kesalahan. Im 20:9; 2Sam 1:16; Yeh 18:13
5.(Diberikan untuk diminum) hukuman yang hebat. Yeh 16:38;
Wahy 16:6

Darah Kristus
Penulis Kitab Ibrani memberikan 2 peristiwa yang berbeda dalam Ibrani 12:18-26 yaitu peristiwa bangsa Israel menerima 10 Hukum Tuhan di Gunung Sinai, langsung dihubungkan dengan PB mengenai Kristus dan karya penebusanNya. Apakah yang menjadi tali penghubung antara 2 peristiwa ini? Pada saat seluruh bangsa Israel berdiri di kaki Gunung Sinai dan Tuhan memberikan hukum-hukumNya melalui Musa, kemudian Musa memberikan korban bakaran di hadapan Tuhan, lalu percikan dari darah korban tersebut diberikan kepada umat Israel seluruhnya. Penulis Kitab Ibrani juga berbicara tentang Kristus, dan adanya pemercikan darah Kristus yang menjadi meterai dari perjanjian.
Pada waktu umat Israel, setelah Tuhan berbicara kepada Musa, berkumpul di kaki Gunung Sinai, sebelumnya Tuhan menitipkan Firman kepada Musa untuk disampaikan kepada umat Israel bahwa 3 hari lagi Dia akan turun di atas Gunung Sinai. Seluruh umat Israel harus bersiap selama 3 hari itu dengan berpuasa. Kira-kira suasana seperti apakah yang melingkupi seluruh umat Israel ini? Mereka tentunya mempersiapkan diri dengan tidak main-main, melainkan dengan ketakutan yang amat sangat sebab Alkitab sendiri mengatakan bahwa Musa pun melihatnya sebagai sesuatu yang menakutkan dan dia sangat gemetar sekali menuju kepada saat itu. Pada hari ke-3, pagi-pagi Musa berdiri di muka lalu seluruh umat Israel berdiri di hadapan tenda mereka menghadap ke arah Gunung Sinai. Orang Israel berkemah di sekitar gunung. Tidak berapa lama kemudian, langit mulai kelam, awan tebal mulai turun, lalu disertai dengan guntur yang menyambar-nyambar, dan suasana makin mencekam sekali. Musa yang berdiri di depan mengatakan: sangat mengerikan pemandangan itu. Dia berdiri dan menantikan saat Allah berbicara. Kemudian Allah mulai berbicara, menyatakan hukum-hukumNya. Musa mulai mencatat setiap hukum tersebut lalu setiap umat Israel diminta untuk memberikan respon terhadap hukum yang Tuhan berikan. Mereka semua mengatakan: kami akan mentaati seluruh perintah yang dari Allah. Kemudian ada darah yang dipercikkan, inilah yang disebut sebagai awal dari perjanjian kerja. Allah mengikat diri di dalam sebuah perjanjian, bahwa Dia akan memberkati umatNya jikalau mereka taat kepada seluruh hukum dan perintahNya. Perkataan umat Israel bahwa mereka akan mentaati seluruh perintah Allah dan hidup dalam kesungguhan dalam ketaatan itu, merupakan bagian yang lain dari perjanjian itu.
Allah adalah Allah yang setia yang tidak pernah menarik perjanjianNya ataupun mengubahnya. Pada waktu Dia mengikat diri dalam sebuah perjanjian bahwa Dia akan memberkati seluruh ketaatan, Dia akan mengerjakan hal tersebut. Sebaliknya, orang Israel menyangkali perjanjian yang pernah mereka lakukan. Mereka gagal di dalam menjaga ketaatan mereka. Di sini dapat terlihat bahwa perjanjian kerja itu tidak dapat dikerjakan oleh setiap orang Israel, hal ini menunjukkan bagaimana mereka semakin berusaha untuk taat mereka semakin gagal untuk taat, semakin mereka berusaha untuk hidup berkenan kepada Allah semakin mereka melakukan hal yang tidak berkenan kepada Allah. Inilah cerminan natur dari manusia berdosa. Frustrasi melingkupi semua orang yang berusaha untuk hidup dalam perjanjian kerja, sehingga perlu adanya pembaharuan perjanjian yang kemudian disebut dengan perjanjian anugerah.
Di dalam perjanjian anugerah, Kristus berdiri sebagai mediator antara Allah dan umatNya. Di dalam perjanjian ini dikatakan bahwa tidak ada satupun upaya manusia yang dapat membawa manusia kembali kepada Allah, tidak ada satupun dari jerih lelah manusia yang olehnya Allah berkenan menerimanya. Perjanjian ini melihat Kristus didalam korban penebusanNya, menjadi pintu masuk keselamatan sehingga seseorang bisa berjumpa dengan Allah. Perjanjian anugerah dimeteraikan dengan pemercikan darah Kristus. Perjanjian kerja dimeteraikan dengan pemercikan darah binatang korban yang disembelih.
Penulis Kitab Ibrani mengatakan bahwa darah Kristus adalah lebih dari semua yang lain. Darah Kristus mengatasi seluruh tata liturgi korban persembahan di dalam PL. Di dalam PL berkali-kali korban harus dipersembahkan di hadapan Allah, berkali-kali imam besar harus menyembelih binatang korban, berkali-kali darah binatang korban membasahi mezbah korban bakaran dan tanduk-tanduk yang ada di ujung mezbah tersebut. Mezbah korban bakaran adalah salah satu perkakas yang diletakkan di pekarangan kemah Musa di tempat paling depan. Di atas mezbah tersebut tubuh korban bakaran dipotong-potong lalu dibakar sebagai bau-bauan yang menyenangkan bagi Tuhan. Setiap kali orang Israel berbuat dosa harus membawa binatang persembahan yang harus disembelih di sana dan kemudian imam harus memercikkan darah binatang tersebut sebagai tanda permohonan pengampunan dosa. Pekerjaan ini adalah pekerjaan rutin. Ada lagi pekerjaan imam besar yang dilakukan 1 kali dalam 1 tahun yaitu setelah mempersiapkan diri dalam perayaan hari penebusan, dia membawa darah binatang masuk ke dalam tenda melewati Ruang Suci dan masuk ke dalam Ruang Maha Suci; di dalam tempat itu dia kembali memercikkan darah binatang sebanyak 7 kali tepat di atas tutup pendamaian; di situlah Allah menerima korban yang meminta pengampunan dosa bagi seluruh umat.
Seluruh hal yang dilakukan dalam PL sekarang sudah berhenti didalam korban Kristus, yang dikerjakan dalam PL menunjukkan ketidaksempurnaan tetapi setelah Kristus menyelesaikan tugas penebusan maka tuntaslah/ genaplah apa yang Tuhan mau untuk menyelesaikan problema dosa manusia.
Yesus Kristus jauh melebihi sistim pengorbanan PL, jauh melebihi seluruh sistim keimaman PL, bahkan jauh melampaui keimaman dari Melkisedek. Mengapa demikian? Dalam PL kita melihat bahwa seluruh persembahan terdiri dari beberapa bagian, yaitu: ada orang Israel yang datang membawa korban persembahan, ada korban persembahan, ada imam yang menerima korban itu. Ini adalah 3 sisi yang berbeda didalam PL. Kristus menggabungkan ketiga hal yang berbeda diatas menjadi 1 didalam diriNya. Yesus Kristus mewakili orang yang berdosa yang datang kepada imam, Dia adalah imam itu sendiri yang menerima korban persembahan, dan Dia adalah korban itu sendiri.
Pada saat ini saya akan menyoroti secara khusus mengenai pemercikan darah Kristus. Sebelum pemercikan darah oleh Kristus, ada penderitaan, kesakitan, penolakan, pengosongan diri, penghinaan yang sedalam-dalamnya yang Kristus alami yang tidak pernah dialami oleh siapapun juga. Puncak dari seluruh yang dialami itu adalah darah Kristus harus dipercikan. Ini menjadi lambang, menjadi meterai dari perjanjian yang baru.
Pada saat penerjemahan Alkitab dari bahasa aslinya menuju ke bahasa Inggris terjadi kesulitan untuk menerjemahkan kata “penebusan” sehingga keluarlah kata “at one moment” yang akhirnya menjadi “atonement”. Pada satu kali waktu tertentu Kristus pernah memberikan hidupNya, pernah ada kayu salib yang ditegakkan, pernah ada darah kudus yang mengalir. Pada satu kali tertentu dan tidak pernah ada waktu yang lain lagi.

Ada 4 pokok bahasan mengenai darah Kristus yaitu:
1. Darah penebusan mau menunjukkan pusat dari isi hati Allah sehingga orang dapat datang dan berjumpa dengan Dia.
Di dalam PL, orang boleh datang dan mendekati Allah pada waktu Allah datang memberi undangan dengan disertai aturan-aturan yang berkaitan dengan kesucian Allah. Di dalam PB, untuk orang bisa datang kepada Allah harus melewati pintu satu-satunya yaitu Kristus sebagai perantara. Tidak ada perantara yang lain. Kristus adalah jalan masuk menuju tahta Allah. Mengapa kita bisa masuk ke Surga dan memiliki sukacita yang tidak pernah habis? Oleh karena adanya darah pemercikan itu, yang menjadikan tanda bahwa kita adalah umat tebusan. Kita tidak pernah melihat dan mengalami penebusan Kristus secara historis, tetapi secara rohani tanda darah pemercikan itu ada dalam hati kita masing-masing. Kristus menorehkan darah pemercikan itu untuk membasuh dosa-dosa yang kita miliki.
Kristus di atas kayu salib menyatakan isi hati Allah. Allah Bapa memang mengalami kepiluan karena Anak Tunggal Bapa harus mati mengalirkan darah, harus memercikan darah, tetapi Allah Bapa juga bersukacita karena korban AnakNya yang tunggal itu memberikan kepuasan didalam DiriNya. Pada waktu Kristus mati, seluruh kemuliaan Allah dinyatakan, seluruh tuntutan Allah terhadap problema dosa manusia menjadi selesai, Allah Bapa memperdamaikan DiriNya dengan orang-orang berdosa, Allah Bapa memilih untuk tidak mengingat dosa manusia. Allah di dalam kemaha-tahuanNya selalu mengingat dosa manusia, tetapi ketika Kristus mati di atas kayu salib, Allah Bapa memilih untuk tidak mengingatnya lagi. Inilah yang disebut dengan anugerah. Inilah yang disebut dengan pengampunan di dalam perjanjian anugerah.
2. Darah pemercikan itu berbicara, berarti identik dengan Kristus sendiri.
Darah pemercikan, dipersonifikasikan, berbicara kepada Allah dan menembus tahta Allah. Darah pemercikan itu sebagai tanda, sama halnya dengan pada waktu bangsa Israel akan keluar dari Mesir, Tuhan mengatakan: akan ada malaikat maut yang akan mencabut nyawa seluruh anak sulung orang Mesir, tetapi kamu, bubuhkanlah darah binatang di pintu rumahmu dan di ambang pintu rumahmu maka malaikat maut akan meluputkan engkau dan anak sulungmu akan selamat. Pada malam itu, suasana di dalam rumah orang Israel diliputi suasana yang sangat mencekam. Saya berani menafsirkan bahwa malaikat maut memberikan penghormatan kepada tanda darah tersebut karena menurut catatan di Kitab Wahyu ketika seluruh penghuni Surga berkumpul dan Anak Domba itu di sana, mereka memberi hormat dan mengatakan: Anak Domba yang disembelih patut menerima pujian dan penghormatan.
Tanda itulah yang merupakan satu-satunya akses masuk ke dalam Surga. Peristiwa yang dialami orang Israel diatas dimana di pintu diberi tanda darah merupakan sebuah gambaran tentang Surga. Setelah malaikat maut melewati rumah tersebut, suasana berubah menjadi sukacita karena tidak ada lagi kematian di rumah tersebut. Ini pemandangan paling primitif tentang Surga, karena ada tanda darah anak domba yang mencegah malaikat maut datang. Betapa besar yang diperbuat oleh Kristus dan betapa mengerikannya kalau pemercikan darah itu tidak pernah dilakukan oleh Kristus. Suara darah Kristus itulah yang berseru terus menerus melebihi suara darah Habel, dan suara itulah yang didengar oleh Musa di kaki Gunung Sinai yang memanggil Musa untuk naik ke atas Gunung Sinai. Suara itulah yang menggoncangkan gunung-gunung, juga Surga, dan hati nurani orang berdosa. Ketika Kristus berbicara, suara itu diperdengarkan, maka hendaknya kita bersukacita, itulah tanda adanya kebaikan Allah yang ditujukan kepada kita satu persatu. Adalah sebuah kecelakaan jikalau Tuhan menutup mulut dan tidak berbicara apapun yang merupakan tanda Tuhan sudah mengabaikan kita. Suara itu akan terus diperdengarkan dan mencari orang berdosa bahkan di ujung dunia manapun.
Darah Kristus identik dengan Kristus sendiri. Tidak ada kekristenan tanpa Kristus. Tidak ada Kerajaan Allah tanpa darah pemercikan. Tidak ada sukacita surgawi jikalau memisahkan Kristus dengan darah pemercikan. Alkitab mengatakan: apa yang sudah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia. Kalimat itu bukan hanya berbicara mengenai hubungan suami dan istri tetapi juga menyangkut semua sistim yang sudah Allah tentukan. Sejak Kristus memasuki masa pelayanan, sudah ada upaya-upaya untuk memisahkan Dia dengan karya penebusanNya. Ada yang mengatakan: siapakah Dia sehingga bisa berkata bahwa Dia berasal dari Allah, tubuh Kristus di dunia adalah tubuh bayang-bayang belaka berarti tidak memiliki darah di dalamnya, kalau bicara tentang Yesus cukup hanya dalam lingkup sejarah tetapi jangan tentang Yesus yang membangkitkan iman, kalau bicara tentang Yesus yang membangkitkan iman maka hanya cukup di sisi itu saja dan jangan bicara bahwa Yesus sungguh-sungguh pernah hadir dalam sejarah. Itulah contoh-contoh upaya untuk memisahkan Dia dengan karya penebusanNya. Upaya-upaya itu juga menunjukkan betapa mengerikannya dosa itu, bodohnya orang berdosa yang dikuasai dosa sehingga tidak dapat melihat kemuliaan Allah yang dinyatakan didalam diri Kristus.
3. Kristus dan darah pemercikan-Nya menjadi perantara Perjanjian Baru.
Alkitab baik dalam PL maupun PB menyatakan bahwa tidak ada perjanjian yang tanpa darah. Jika A dan B mengadakan perjanjian, tata cara perjanjiannya adalah: setelah perjanjian ditetapkan, mereka harus mengambil lembu, menyembelihnya, darahnya ditampung, kemudian tubuh binatang itu dipotong-potong, ditaruh berjejer, darah dipercikan di atas tubuh binatang itu, untuk mengatakan: kalau ada pihak yang mengingkari janji maka nasibnya akan sama dengan binatang itu. Perjanjian yang demikian begitu mengerikan, taruhannya adalah hidup orang itu sendiri.
Dalam perjanjian ada darah, ada pertaruhan hidup, sehingga penebusan yang dikerjakan Kristus terjadi sekali dalam sejarah untuk menunjukkan bahwa ketika semua umat tebusan masuk ke dalam genggaman tangan Allah Bapa dan tangan Kristus bukanlah sesuatu hal yang mudah melainkan harus melewati suatu pertaruhan, ada darah yang harus dicurahkan, seluruh totalitas hidup diletakkan di atasnya. Pada waktu Kristus mati di atas kayu salib, maka darah perjanjian langsung menjadi meterai perjanjian baru. Darah Kristus ketika 1 kali dicurahkan memberikan dampak kekekalan. Darah Kristus ketika dipercikan di dalam jiwa semua orang berdosa yang kepadanya Allah berkenan maka itu tidak pernah ditarik kembali. Perjanjian itu tidak pernah Kristus revisi dan tidak pernah diubah lagi. Perjanjian itu adalah perjanjian kekal.
Darah itu berseru keras dan menembus ke tahta Allah Bapa. Suara itu mengatakan: Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Suara itu berseru: bebaskanlah mereka dari seluruh belenggu dosa mereka. Suara itu menjelaskan betapa jahatnya dosa itu sekaligus hendak mengatakan betapa dalamnya cinta Allah. Inilah suara penebusan. Suara itu diperdengarkan di atas kayu salib. Suara itu adalah suara cinta yang tidak pernah habis, suara kekal yang terus terdengar sepanjang abad dan tempat. Suara itu menjelajah masuk ke segala tempat persembunyian orang-orang berdosa dan mencapai mereka di sana, bahkan ke dalam dunia orang mati pun suara itu pasti dapat masuk. Suara itu ketika menemukan orang berdosa akan mengatakan: Aku mengasihimu dan Kristus sudah mati menggantikan engkau, ada darah pemercikan bagi dosamu.
Suara itu pernah suatu kali tertentu menjumpai saya di tempat persembunyian saya di sebuah retreat sekolah. Saya bergumul untuk angkat tangan atau tidak. Akhirnya saya mengangkat tangan saya, seperti mau berkata: Tuhan, Engkau sudah menemukan aku. Maka aku berdiri dan berkata: di sini aku. Hari itu Kristus membasuh hatiku yang penuh dengan kemerahan dosa, dibasuh oleh darah suci, darah pemercikan. Pada hari itu saya bersyukur dengan amat sangat, saya menjadi orang yang baru, saya mengalami damai sejahtera surgawi yang melingkupi hati, terus menerus sampai dengan saat ini.
4. Darah Kristus selalu berbicara terus menerus.
Penulis Ibrani memakai bentuk present continuous untuk kata “berbicara” pada Ibrani 12:24. Hal ini untuk mengingatkan bahwa kasih Allah kepada manusia adalah kasih yang kekal, Kristus adalah satu-satunya suara yang berseru di sepanjang zaman, yang terus menerus berseru dengan keras.
Kenapa darah Kristus dibandingkan dengan darah Habel? Kira-kira darah Habel menyerukan apa? Menurut saya, seruan darah Habel adalah: Ya Allah, oleh karena aku hendak menunjukkan imanku dengan cara memberikan persembahan ini, sebagai akibatnya darahku harus dicurahkan. Habel menjadi tipologi dari Yesus Kristus. Dalam ketaatanNya, Kristus melaksanakan kehendak Allah Bapa, dan untuk itu Dia harus memercikan darah kudusNya.
Darah Kristus berseru lebih keras daripada darah Habel karena darah Kristus adalah darah penebusan yang berseru memohon pengampunan, darah yang penuh dengan anugerah karena setelah penebusan dilakukan oleh Kristus maka Allah tidak lagi mengingat-ingat dosa-dosa dari manusia. Darah itu mau menyatakan kekudusan Allah dan cinta kasihNya, keadilan Allah dan anugerahNya, kebenaran Allah dan belas kasihNya. Karena itu, jagalah supaya kamu jangan menolak Dia yang berfirman, sebab pada waktu Allah berbicara, disana Roh Kudus mengajarkan sesuatu tentang darah Kristus yang melebihi semua darah yang lain bahkan melebihi semua darah dari kaum martir yang memang juga dicurahkan bagi Allah. Suara Kristus dengan lembut terus Ia perdengarkan di telingamu, engkau dapat menyambutnya, engkau dapat mendengarnya dan engkau dapat memberikan perhatian penuh kepadanya. Jangan tolak suara itu! Suara Kristus ketika Dia perdengarkan merupakan tanda adanya cinta yang tidak pernah berubah, cinta kekal yang selalu mau Ia nyatakan untuk orang berdosa seperti anda dan saya. Kiranya Firman Tuhan pada hari ini mengingatkan kita akan apa yang sudah Kristus perbuat dan mendorong kita untuk membaktikan hidup kepadaNya. Tuhan memberkati anda. Amin.

Alkitab mengajarkan DARAH DAN DAGING tidak mewarisi SURGA

Ini hanya sebuah Kiasan ttg YESUS dalam pengertian yg Fana yg telah mewakili keberadaan sesamaNYA. Manusia yg bisa lapar, haus dsbnya hal2 yg bersifat manusiawi, telah berujung kepada SALIB dan KUBURAN!
Hal2 mana yg telah dipergunakan oleh Allah untuk datang kepada Umat Manusia ciptaaNYA, tetapi walupun hal2 fana tersebut telah dipergunakan oleh ALLAH untuk hadir ditengah tengah umat ciptaanNYA, Allah tetap konsisten, bahwa hal2 fana tersebut adalah lahir dari generasi ADAM dan HAWA sebagai cikal bakal dari segala sesuautu yg disebut fana yaitu DARAH DAN DAGING.

Darah Perjamuan Kudus dalam Sejarah Perkembangan Gereja

1. Masa Jemaat mula-mula (Th 33M-378M)

Rasul-rasul Yesus yang selalu mengikuti dan juga mengalami sendiri, mengajarkan kepada jemaat pertama untuk merayakan kematian Tuhan sampai Ia datang untuk yang kedua kalinya. Upacara peringatan tersebut dinamakan “memecah roti”. Tentunya juga bersama dengan anggurnya, sebagai Tubuh dan Darah Kristus, seperti yang Tuhan Yesus lakukan dalam Perjamuan Malam. Rasul Paulus, rasul untuk bangsa non Yahudi, walaupun tidak mengalami saat bersama dengan Tuhan Yesus secara fisik, telah mendapat pengajaran dariNya secara langsung dari pimpinan Roh Kudus. Ia, yang tadinya pengajar hukum Taurat yang taat, bahkan merayakan tidak pada hari sabtu, tetapi pada hari minggu. Artinya, kita harus menguduskan diri setiap hari dihadapan Tuhan.

Dalam suratnya di korintus yang pertama, kita bisa mengetahui bahwa telah terjadi perpecahan dalam jemaat dan juga tidak menghormati perayaan Perjamuan Kudus sebagaimana mestinya, sehingga banyak jemaat yang sakit dan meninggal. hal ini terjadi karena mereka menjadikan perjamuan kudus sebagai tradisi belaka, bisa diubah sekehendak hati mereka dan tidak merayakan berdasarkan pada makna aslinya, yaitu untuk memperingati kematian Tuhan sampai kedatanganNya yang ke dua kali.

2. Masa Abad Pertengahan (Th 378M-1546M)

Pada Th 378 Masehi, terjadi perubahan besar dalam Jemaat “Jalan Tuhan” atau Kristen mula-mula, menjadi Negara Kristen, karena pada tahun tersebut Agama Kristen ditetapkan sebagai Agama Negara di Kekaisaran Romawi. Pemimpin Agama Kristen adalah juga sebagai Raja. Kerajaan Roma Katolik, yang memiliki kekuasaan di seluruh jazirah italia dan juga punya pengaruh politik di benua Eropa.

Perayaan Perjamuan Kudus, atau “memecah roti”, dalam kebaktian missa disebut sebagai perayaan / Saktramen Ekaristi, yaitu menyambut Tubuh dan Darah Kristus. Namun dalam perjalanan sejarah gereja katolik, banyak terjadi penyimpangan -penyimpangan karena banyak hal. Keadaan jaman dahulu saya gambarkan demikian:
Hanya para imam dan bangsawan yang boleh memiliki Alkitab, awam tidak boleh. Semua dogma yang sah hanya berasal dari tangan Paus dan Gereja Roma memiliki hak untuk mengutuk, mengasingkan dan membasmi siapapun yang menentang ajaran Gereja Katolik. Alkitab sebagai Firman Tuhan tidak lagi menjadi pertimbangan yang utama.

Perubahan-perubahan terjadi juga dalam Sakramen Ekaristi ini, antara lain adalah ajaran Trans Substansi (Th 1215M) yang mengajarkan bahwa Tuhan Yesus memberi kuasaNya lewat Paus, Paus meneruskan ke Uskup dan Uskup meneruskan ke para pastor, yaitu untuk mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Alkitab berkata bahwa semua orang yang percaya memiliki kuasa menjadi anak Allah. Jadi, setiap orang percaya derajatnya sama di mata Tuhan.

Perubahan besar lainnya adalah larangan bagi kaum awam untuk meminum anggur (menerima Darah Kristus) pada perayaan ekaristi (Diresmikan tahun 1414M). Anggur hanya untuk para imam dan kaum bangsawan.
Walaupun secara manusiawi dan duniawi dapat dibenarkan dengan alasan ekonomis, higienis, praktis, tetap saja tidak sesuai dengan Alkitab.
Darah Yesus adalah untuk mengampuni dosa manusia, siapapun orang itu, karena semua manusia telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Larangan ini jaman sekarang tidak terlalu diperhatikan, tetapi masih dijalankan. Dalam misa ekaristi di gereja katolik, biasanya umat hanya menerima Tubuh Kristus saja, sedangkan DarahNya hanya lewat iman (Amin!).

Perubahan ini dan banyak lagi yang lain membuat para tokoh reformasi bangkit
dan protes kepada Gereja Katolik, maka lahirlah Gereja Protestan yang dipimpin
oleh Martin Luther, mantan biarawan Katolik yang melihat bahwa ajaran Gereja
Katolik tidak lagi sesuai dengan ajaran Alkitab.

3. Masa Reformasi (1546M – Sekarang)
Dalam bukunya, Martin Luther mengecam Paus dan kaum bangsawan dan mengatakan dengan tegas bahwa orang yang telah dibabtis adalah umat kepunyaan Allah sendiri dan disebut sebagai imamat yang rajani (I Pet 2:9). Artinya orang yang telah percaya dan dibabtis sudah menjadi raja sekaligus imam di hadapan Allah sendiri. Oleh karena itu, seharusnya tidak ada perbedaan antara paus, uskup, imam, biarawan dengan raja, bangsawan, tukang-tukang serta petani. Hanya ada satu Tubuh dan Kristuslah kepalanya.

Martin Luther menolak ajaran Trans Substansi dan mengajarkan tentang
Co-Existensi / Ko Substansi, yaitu secara kelihatan memang tetap roti dan
anggur, namun Tubuh dan Darah Kristus hadir dalam bentuk yang tidak kelihatan. Jadi, perjamuan Kudus hanya dapat dirayakan dengan benar oleh iman (iman adalah bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat – Ibr 11:1).

Setelah reformasi bergulir, banyak orang memiliki kerinduan untuk kembali
kepada apa yang telah diajarkan Alkitab. Kembali kepada Firman Allah. Namun,
karena masing-masing orang belum sepenuhnya menerima pimpinan Roh Kudus, tunduk di bawah Kristus, satu-satunya kepala dalam tubuh jemaat, Tubuh Kristus sendiri, akibatnya mereka hanya menerima sebagian dari kebenaran dan menolak kebenaran lainnya.

Apakah ajaran Luther tentang Ko Substansi sudah diterapkan pada semua kalangan Protestan? Nyatanya tidak. Banyak aliran Protestan di Indonesia yang malah menganggap bahwa perjamuan Kudus hanya sekedar merayakan, tetapi menganggap bahwa roti dan anggur hanya sebagai LAMBANG dari Tubuh dan Darah Kristus. Hal ini sungguh tidak Alkitabiah. Tidak ada kata dari Tuhan Yesus maupun rasul Paulus bahwa itu cuma lambang. Yesus dengan tegas mengajarkan bahwa dagingNya adalah benar-benar makanan dan darahNya adalah benar-benar minuman. Oleh karena itu, banyak diantara jemaat protestan sendiri yang tidak merasakan manfaat yang nyata dari Perjamuan Kudus.

Yesus adalah Allah yang maha kuasa. Dia ingin agar kita diselamatkan dari dosa
dan maut. Dia menyediakan segala yang kita perlukan lewat Perjamuan Kudus.
Pengampunan Dosa, Kesembuhan, Lepas dari penderitaan dan kemiskinan,
Dipersatukan dengan Allah sendiri, sehingga kita merasakan langsung
perlindunganNya, KasihNya, KebaikanNya, KekudusanNya. KuasaNya telah
disediakan, tinggal pilihan kita untuk menerimanya sesuai dengan janji firman
Allah (Alkitab).

Ciri-ciri Perjamuan Kudus yang benar:
1. Dipimpin oleh Imam yang Kudus (dalam hidup dan tingkah lakunya)
2. Mengerti benar makna Perjamuan Kudus, sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Alkitab.
3. Memiliki iman, bahwa apa yang diterima benar-benar Tubuh dan Darah Kristus, bukan cuma lambang.
4. Hanya orang dewasa yang boleh mengangkat roti dan cawan untuk diberkati
5. Bersama-sama, karena anak-anak belum memiliki pemahaman yang lengkap tentang Perjamuan Kudus.
6. Bayi dan anak-anak boleh menerimanya, sesudah orang dewasa tersebut yang mengucapkan doa iman.

KUASA DARAH YESUS
Darah Yesus itu tidak sama dengan darah kita, lihat Luk. 1:34-35. Kelahiran Yesus bukan dari benih laki-laki, bukan karena hubungan suami isteri. Tetapi, Yesus lahir dari Roh Kudus. Ada enam kuasa darah Yesus, yaitu:
1. Darah yang berkuasa untuk mengampuni dosa.
Mat. 26:28, “Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.”
’Pengampunan’ (bah. Yun. ’apesis’, artinya: membebaskan dari hukuman). Ketika kita percaya kepada Yesus, berarti kita diampuni, dibebaskan dari tuntutan hukuman. Mengapa bisa? Karena darah Yesus itu tercurah/keluar karena lewat suatu penghukuman dan penderitaan yang luar biasa. Dia sudah menanggung penghukuman bagi kita.

2. Darah Yesus membenarkan kita.
Rm. 5:9, “Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.”
’Dibenarkan’ (bah. Yun. ’dikaiao’, artinya: merubah status menjadi benar). Yang benar adalah walaupun kenyataannya belum benar, namun statusnya adalah orang benar. Walaupun belum sempurna, darah Yesus berkuasa merubah status menjadi ’orang benar.’

3. Darah Yesus berkuasa untuk menguduskan kita.
Ibrani 13:12, “Itu jugalah sebabnya Yesus telah menderita di luar pintu gerbang untuk menguduskan umat-Nya dengan darah-Nya sendiri.” Dan lihat 1Yoh. 1:7.
’Menguduskan’ (bah. Yun. ’hagiazo’, artinya: dibuat jadi kudus). Kudus itu berarti dipisahkan bagi Allah. Itulah sebabnya kita dapat melayani Tuhan. Lewat darah Yesus kita dikuduskan dan dilayakkan untuk melayani: berkhotbah, Worship Leader, Singer, diaken, dll. Kita bukan dari dunia, tetapi dari sorga. Kewarganegaraan kita adalah sorga, dan akan kembali ke sorga.

4. Darah Yesus menebus kita.
Efesus 1:7, “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya.”
’Penebusan’ (bah. Yun. ’apoletrosis’, artinya: tindakan menebus seluruhnya). Bukan menebus yang Dia suka, tetapi semua umat manusia sepanjang zaman ini. Ketika kita berdosa, kita berada di bawah kekuasaan dosa (=iblis). Dan, darah Yesus yang tercurah itu berkuasa untuk menebus kita dari kuasa dosa dan membuat kita menjadi milik Kristus. Mengapa menebusnya pakai darah? Lihat Imamat 17:11, “Karena yawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa.” Yang ditebus adalah nyawa, sebab itu yang dipakai untuk menebusnya adalah dengan nyawa. Dan, nyawa ada di dalam darah.

5. Darah Yesus mendamaikan kita.
Rm. 3:25, “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.”
Lihat Ibrani 10:19. Pada awalnya kita (karena dosa) adalah seteru Allah. Dan lewat darah Yesus kita diperdamaikan dengan Allah. Hubungan kita menjadi dekat: Bapa dengan anak.

6. Darah Yesus berkuasa mengalahkan iblis.
Wahyu 12:10-11, “Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: “Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut.” Kuasa darah Yesus membawa kemenangan bagi kita. Perkatakan itu setiap saat. Amin. *
download